instagram

@soratemplates

Friday, July 30, 2021

Ikhtiar Melindungi Orang Tercinta Mengalahkan Ketakutan Vaksin Sebenarnya

10:01 PM 0 Comments

 


Pandemi datang ke Indonesia sudah lebih dari 2 tahun. Bukan waktu yang sebentar pandemi ini datang, menghadirkan rasa takut, khawatir, cemas, bahkan kehilangan. Begitu pula dengan saya yang haru jauh dari keluarga, melakukan tugas dan kewajiban saya di sini sebagai Ibu Pekerja sekaligus seorang istri yang dari dulu berniat mengikuti suami di mana ia beraktivitas.

Rasa takut tersebut membayangi setiap aktivitas yang ada, di dalam benak sering bermunculan begitu banyak pertanyaan. Kapan pandemi ini akan berakhir? Sampai kapan kita bisa bertahan? Kapan saya bisa berjumpa dengan orang tua dan sanak keluarga? Apakah usaha-usaha yang kita lakukan menjalani prokes sudah benar dan tidak beresiko?

Di antara sedih, gundah gulana, perasaan haru dan berduka, banyak juga para tenaga kesehatan (nakes) dan peneliti yang menyumbangkan tenaga dan fikirannya untuk menghentikan pandemi ini, dengan optimisme yang ada dalam benak, “Setiap penyakit pasti ada obatnya.” Akhirnya ditemukan vaksin, sebagai salah satu cara mengurangi dampak yang berbahaya dari penyebaran virus Covid-19 ini.

Sempat maju mundur untuk melakukan vaksinasi ini dikarenakan kekhawatiran banyak hal. Salah satunya dikarenakan tubuh saya obesitas. Saya takut obesitas punya efek vaksin yang membuat tubuh bereaksi dan akhirnya sakit. Setelah berkonsultasi dengan beberapa nakes akhirnya hati ini mantap untuk vaksin. Vaksin bukan hanya ikhtiar untuk diri sendiri, tapi vaksin adalah ikhtiar untuk menjaga orang-orang yang kita sayang.

Jadwal vaksin yang diberikan kantor saya jatuh ditangal 8 Juni 2021. Kami datang ke tempat yang telah ditentukan, yaitu di Banda Aceh Convention Hall. Ramai antrian orang-orang yang menunggu vaksin. Mulai dari screening kesehatan, pengukuran tensi darah dan beberapa pertanyaan yang diajukan oleh petugas. Alhamdulillah tidak ada masalah dan saya diizinkan vaksin. Nakes di sana menepuk-nepuk lengan saya sambil bercanda, “duh ini enak kali disuntuknya”. Hahaha pasalnya memang lengan saya berisi. Setelah vaksin tersebut saya tidak merasakan hal-hal yang ekstrem bereaksi di tubuh saya kecuali mengantuk dan lapar. Atau mungkin ini bawaan keseharian saya? Entah hihihi. Memang setelah vaksin, dianjurkan untuk tidak melakukan pekerjaan berat dan makan-makanan yang cukup dan bergizi.

SMS yang berisi sertifikat vaksin dan jadwal vaksin selanjutnya cepat sekali sampai ke handphone saya. Tanggal 6 Juli atau 28 hari kemudian saya dijadwalkan untuk vaksin ke-2. Namun karena malas untuk antri akhirnya tanggal 2 Juli saya sudah vaksin yang ke-2. Tentu dengan pertimbangan dan menghubungi para nakes apakah vaksin ke-2 saya bisa dilakukan. Dengan antrian yang tidak panjang juga proses yang lancar, akhirnya saya sukses vaksin ke-2. Sama halnya dengan vaksin pertama, efek vaksin ke-2 hanya sebatas mengantuk dan lapar. Alhamdulillah dua kali saya telah menjalani vaksin.

Vaksin atau tidak vaksin adalah pilihan masing-masing orang, namun jangan cemooh orang yang menjalankan vaksin dan jangan membuat hoax di mana-mana. Hal ini dapat menyakiti hati orang-orang yang telah berat melewati keganasi virus covid-19, bahkan orang yang kehilangan teman, sanak keluarga, anak bahkan orang tua untuk selamanya.

Setelah melakukan vaksin bukan berarti bebas protokol kesehatan, tetap ada upaya pencegahan. Banyak yang beralasan bosan di rumah terus, agar tidak bosen ada cara lain yaitu berkreasi, bekerja, menuntut ilmu bisa menggunakan Smartfren GOKIL Max. Jangan lupa untuk  download aplikasi My Smartfren karena di dalamnya ada Smartpoin yang bisa ditukar dengan hadiah-hadiah keren.

Semangat sehat, semangat berkreasi. WOW terus!