instagram

@soratemplates

Sunday, October 20, 2019

Seni Ukir dalam Sejarah dan Budaya Aceh


Awal Januari 2012, datanglah serombongan keluarga mempelai pria nun jauh dari ujung barat Sumatera berniat meminang gadis Sunda. Mereka adalah  rombongan calon suami saya yang terdiri dari  sanak saudara baik yang dari Aceh atau pun yang dari Jabodetabek. Tak lupa mereka membawa seserahan dan sirih yang bentuknya sedemikian rupa. Sang penata rias saya berdecak kagum dan heran melihat kekhasan seserahan Aceh yang umumnya  memiliki pola-pola khas Aceh dalam kain-kainan, perhiasan, bahkan juga aneka kue yang terukir dengan cantiknya.

Ya, seni ukir Aceh diakui keindahannya sejak dahulu kala. Selain budaya tutur yang kental di Aceh, budaya seni  ukir Aceh begitu khas dan terkenal di kancah nasional dan internasional.

Umumnya ukiran aceh memiliki ciri khusus pada motif-motif yang dihasilkan. Motif tersebut umumnya identik dengan keislaman, motif bungong (bunga), dan motif-motif flora. Namun jarang ditemui motif fauna.  Berbagai ukiran dapat kita temui pada barang, benda, atau makanan yang ada di Aceh. Kesemuanya memiliki nilai historis dan juga pemaknaan khusus dari zaman dahulu hingga kini.

Tempat Sirih

Sejak dahulu, Aceh dikenal dengan orang-orang yang gemar mengunyah sirih. Sampai sekarang di beberapa daerah masih ada beberapa orang yang juga melakukan kebiasaan tersebut. Selain dinikmati sendiri, sirih juga disajikan kepada tamu-tamu sebagai pertanda memuliakan tamu  atau yang dikenal dengan istilah ‘peumulia jamee’.   
Foto dari cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Wadah sebagai atribut khusus memakan sirih yang terbuat dari emas dan perak zaman dahulu, disebut dengan batee ranup dan batee karah. Batee ranub terbuat dari tembaga, tetapi batee karah dahulu sering dibuat dari emas.

Zaman kerajaan, batee ranup dan batee karah diukir dengan ukiran yang halus. Pengerjaannya cukup suit dan membutuhkan waktu yang lama. Dikerjakan hanya dengan alat-alat sederhana oleh  pengrajin ukiran yang sudah senior. 

Menurut Harian Analisa 20 Juli 1978, harga satu karah berkisar antara Rp. 200 ribu – Rp.300 ribu. Harga yang cukup lumayan mahal saat itu dikarenakan butuh ketelitian, kesabaran, dan juga kemahiran dalam mengukir wadah sirih tersebut.

Perhiasan dan Motif Pinto Aceh yang Melegenda
Aceh awalnya merupakan daerah kerajaan. Semenjak itu pula, perhiasan-perhiasan yang dipakai oleh orang-orang kerajaan menjadi pusat perhatian. Dahulu, berbagai perhiasan itu dipakai di kepala, telinga, leher, dada , jari tangan,pinggang dan kaki.

Perhiasan-perhiasan tersebut memiliki ukiran-ukiran yang unik dan khas, mulai dari dedaunan, bunga-bunga hutan sampai motif Pinto Aceh yang melegenda. Motif Pinto Aceh sendiri ditemukan sekitar tahun 1939. Namun ada juga yang sumber yang menyebutkan motif   Pinto Aceh ditemukan pada tahun 1935. Utoh (pengrajin perhiasan) yang menemukan ukiran motif Pinto Aceh adalah Utoh Mahmud Ibrrahim atau yang biasa dikenal Utoh Mud. Ukiran perhiasan dengan motif Pinto Aceh ini terinspirasi dari pengamatan Utoh Mod pada pinto khop yang merupakan peninggalan sejarah kerajaan Aceh. Pintu khop tersebut adalah pintu bagian belakang istana kerajaan Aceh di mana tempat keluar-masuk permaisuri dan dayang-dayang kerajaan  menuju jalan Bustanussalatin. Kini, motif ukiran Pinto Aceh tidak hanya dijumpai pada perhiasan saja, tetapi dapat dijumpai juga pada ukiran kayu atau ornamen-ornamen interior bangunan.
 
Pinto Aceh pernah juga dinobatkan sebagai warisan budaya Indonesia tak benda yang berasal dari Aceh pada tahun 2015. Motif ini pun sangat terkenal di tanah air dan mancanegara.

Perhiasan-perhiasan yang penuh ukiran dapat terbuat dari emas, tembaga  ataupun suasa. Ukiran dengan motif khas Aceh pada saat ini masih bisa kita temukan di toko-toko emas, toko perhiasan, ataupun toko-toko souvenir. Dapat digunakan pada acara santai, resmi, ataupun pesta pernikahan.

Senjata Tradisional

Rencong atau rincong adalah senjata asli Aceh yang telah ada sejak zaman kerajaan. Dipercaya telah ada sejak masa pemerintahan Ali Mughayat Syah yaitu Sultan Aceh yang pertama.
Bentuk unik dari senjata tradisional ini  dipercaya oleh masyarakat Aceh sebagai simbol dari kata ‘bismillah’, yang dapat diartikan ‘dengan menyebut nama Allah’. Bagian-bagian dari rencong sendiri sangat khas dan unik. Ukiran-ukiran yang ada pada gagang dan sarung rencong, kebanyak bermotif tumbuh-tumbuhan atau bunga. Saat itu ada pantangan orang Aceh yang muslim untuk membuat bentuk-bentuk makhluk bernyawa sebagai ukiran-ukiran khas Aceh.

Kue Khas Aceh (Dodol Aceh, Meuseukat, dan Wajik)
Dodol Aceh memang rasanya hampir mirip dengan dodol-dodol yang bearasal dari Jawa Barat. Namun ada keunikaan tersendiri dari dodol Aceh yang biasa dibuat pada seserahan pesta perkawinan. Dodol Aceh tersebut diukir dengan sangat cantik di atas nampan besar.

Ukiran tersebut umumnya berupa aneka jenis dedaunan, bunga mawar, bahkan sampai ukiran Pinto Aceh yang cukup indah. Dodol Aceh berbeda dengan meuseukat. Dodol Aceh menggunakan gula merah dalam pembuatannya sedangkan meuseukat menggunakan nanas, gula, tepung, dan juga mentega. Meuseukat diibaratkan sebagai ‘ulee’ atau kepala kue di Aceh. Alasannya, meuseukat umumnya hanya dibuat pada saat upacara-upacara besar seperti perkawinan.

Balee dan Rumoh Aceh
 Bangunan tradisional Aceh yang multifungsi disebut dengan balee atau balai. Balee bentuknya terbuka pada bagian dinding. Banyak jenis dan fungsi balee yang bisa digunakan untuk tempat berisitirahat sementara, menjamu tamu, atau sebagai tempat musyawarah. Balee meunasah digunakan masyarakat gampong untuk bermusyawarah atau mengaji. Ada juga balee yang dibuat secara pribadi yang disebut balee rumoh. Di balee, terdapat ukiran-ukiran yang mengelilingi balee, ukirannya pun sangat beragam.

Sama seperti halnya balee, rumoh Aceh didirikan di atas tiang kayu (tameh) dengan tinggi mencapai 1.5 -2 meter. Rumah Aceh terdapat empat bagian. Yaitu seuramoe keue sebagai tempat menerima tamu. Seuramo teungoh berfungsi untuk kamar tidur keluarga, ruang-ruang di bagian ini digunakan juga untuk memandikan mayat atau saat ada kenduri. Seuramo likot adalah ruangan untuk tempat makan, dapur atau berkumpulnya anggota keluarga untuk saling bercengkrama. Terakhir adalah ruang bawah yang digunakan untuk menyimpan hasil pertanian atau perkebunan.
dokumentasi @iloveaceh


Desain dari rumah adat Aceh ini sangat unik dan memiliki filosofis tersendiri. Baik pada bentuk rumah dan juga ukiran. Ukiran pada rumoh Aceh sangat cantik dan khas. Konon, dahulu jumlah dan banyaknya motif ukiran  rumah Aceh  menentukan  kemampuan ekonomi pemilik rumah adat tersebut.

Batee Nisan (Batu Nisan)
Aceh terkenal dengan kepandaiannya dalam mengukir batee nisan atau batee jeurat. Sejarah membuktikan dalam Tarikh Negeri Kedah atau Hikayat Murong Mahawangsa (Sekitar tahun 1400 SM) tercatat pengasah dan pemahat/pengukir dalam jumlah yang sangat besar. Pengolahan batu yang berasal dari Pulo Breueh dan Pulo Batee diolah di Meuraksa, sehingga batu nisan di Aceh disebut juga dengan batee Meraksa.
Nisan Aceh dalam sebuah pameran. Foto oleh bandaaceh.tourism.com

Ukiran dalam batu nisan Aceh zaman dahulu, dibedakan antara kuburan perempuan dan kuburan laki-laki-laki. Pada batu nisan inong (perempuan) motif ukirannya banyak bulatan yang disebut dengan anting anting. Menjadi pembeda dengan batu nisan agam (lelaki). Selain itu pada  batu nisan Aceh juga terukir motif bungong kalimah yang merupakan kaligrafi Arab yang tertuiskan kalimat syahadat, hadits, syair, atau nasihat tentang kematian.



Dari beberapa pemaparan mengenai  hasil karya ukir dan sejarah yang ada di Aceh. Budaya masyarakat Aceh di bidang seni ukir dapat dibilang sangat tinggi. Namun kini, sudah jarang kita temui orang-orang ahli ukir yang meneruskan kekayaan budaya Aceh ini. Nampaknya pembinaan keahlian mengukir  untuk generasi muda di era milenial ini masih dibutuhkan   agar kekayaan Aceh yang penuh nilai dapat dilestarikan. Bahkan bukan tidak mungkin bisa meningkatkan  kehidupan ekonomi para pengukir muda aceh dan kedepan karyanya bisa lebih dikenal dunia.






1 comment:

  1. Benda-benda cagar budaya di Aceh ini emang unik kak dan sarat akan filosofinya. Pasti keluarga kakak suprise banget ya saat terima hantaran waktu meminang dulu, hehe.

    ReplyDelete