instagram

@soratemplates

Sunday, October 20, 2019

Dodaidi Menguatkan Karakter Masyarakat dan Budaya Aceh



Saya mengagumi kemampuan bertutur dan berbahasa orang-orang di wilayah Sumatera terutama Aceh, di mana saat ini saya tinggal. Tahun 2012 saya memutuskan tinggal di daerah yang bukan hanya memiliki keindahan alam namun juga memiliki begitu banyak adat istiadat dan kebudayaan. Aceh, banyak mengajarkan saya banyak hal. Dari hal kecil hingga hal-hal besar yang bagi saya begitu unik dan saya tidak bisa jumpai di tempat lain.

Salah satu budaya yang menjadi perhatian saya adalah budaya menidurkan anak yang penuh dengan makna. Budaya menimang-nimang bayi dalam dekapan atau ayunan di Aceh, berbeda dengan beberapa daerah yang pernah saya kunjungi. Di Indonesia terdapat nyanyian Nina Bobo, dalam masyarakat internasional dikenal dengan lullaby, sedangkan di Aceh ada syair  khusus yang disenandungkan  sebagai cara menidurkan anak yang disebut dengan istilah dodaidi. Dodaidi dijadikan salah satu kebiasaan orang tua dalam melantunkan tembang khusus sebelum anaknya tidur. Di dalamnya terdapat puji-pujian kepada Allah SWT, salawat salam kepada Nabi Muhammad SAW, harapan tumbuh kembang anak dan juga penanaman karakter anak yang ketika dewasa kelak karakter baik tersebut dapat dijumpai pada anak.

Dodaidi berasal dari kata doda dan idi. Peudoda memiliki arti ‘bergoyang’ dan idi yang lazim juga disebut dodi memiliki arti kata ‘berayun’. Umumnya anak bayi ketika dilantunkan syair dodaidi berada dalam ayunan ija (ayunan kain), ditimang, atau ditidurkan saja di atas kasur.

Nyanyian adalah bahasa universal. Sampai sekarang, jika saya mendengarkan lantunan dodaidi yang dinyanyikan sepenuh hati, mata saya selalu berkaca-kaca. Bahasa Aceh bukan bahasa asli daerah tempat saya dilahirkan dan tumbuh dewasa, namun seni bernyanyi adalah seni yang dapat dirasakan oleh hati. Walaupun awalnya saya tidak terlalu faham arti dari syair  dodaidi namun syairnya seakan menyentuh relung hati saya yang paling dalam. 

Bertahun-tahun di Aceh,  kosa kata bahasa Aceh saya semakin bertambah,  akhirnya saya mulai mengerti dan memaknai apa yang ada  dalam syair dodaidi.

Allah hai do dodaidi
Allah hai do dodaidi
Boh gadong bi boh kaye uteun
Buah gadung buah-buahan dari hutan
Rayeu si Nyak hana peu mak bri
Besar si Anak entah apa ibu beri
Aib ngeun keuji ureng donya keun
Aib dan keji orang katakan
Allah hai do dodaida
 Allah hai do dodaida
seulayang  blang kah putoh talo
Layang-layang di sawah sudah putus tali
Beu rijang rayeuk muda sedang
Cepatlah besar  (remaja)
Ta jak bantu prang ta bela nangroe
Ikut pergi berperang untuk membela bangsa
Wahai aneuk bek ta duk le
Wahai anakku janganlah duduk (berdiam diri) lagi
Beudoh sare ta  bela bangsa
Bangkit bersama membela bangsa
Bek ta takut ke darah ile
Janganlah takut kepada darah mengalir
Adak pih  mate, poma ka rela
Walaupun mati, ibu telah rela
Jak lon tateh, meujak lon tateh
Mari ibu tu tuntun, kemarilah ibu tuntun
Bedoh hai aneuk ta  jak u Aceh
Bangunlah anakku kita ke Aceh
Meubeu bak on  ka meubeu timphan
Baunya daun telah berbau timphan
Meubeu badan bak sinyak Aceh
Seperti wangi badan si anak Aceh
Allah hai po ilahon hak
Allah yang sang pencipta yang punya kehendak
Gampong jarak han troe lon wo
Kampong jauh tiada sampai ku pulang
Adak na  bule, ulon tereubang
Andaikan punya sayap, ibu akan terbang
Mangat rijang troek u Nangroe
Agar cepat sampai ke Nangroe Aceh
Allah hai jak loen  timang treuk
Kemarilah nak Ibu timang-timang
Sayang  riyeuk  di sipreuk pante
Sayangnya ombak memecah pantai
Oh rayeuk  sinyak yang puteh meupreuk
Jika anak ini sudah besar nantinya
Toh sinaleuk gata boh hate
Di manakah engkau akan berada nanti wahai buah hatiku?
(Syair Dodaidi yang dinyanyikan oleh group musik Nyawong)




Dodaidi biasa disebut juga sebagai ‘syair peuayon aneuk’ atau ‘peurateb aneuk’ dalam kebudayaan Aceh. Peuayon aneuk merupakan lantunan syair untuk menidurkan anak. Di dalamnya terdapat kearifan lokal yang bisa didapatkan dari penggalian teks secara tersirat dan tersurat  dalam dodaidi.

Penanaman Ketauhidan dan Ajaran Agama
Aceh terkenal dengan keislaman yang cukup kental. Dodaidi dijadikan sarana penanamanan ketauhidan yang utama, yaitu kepada Allah SWT. Orang tua mengajarkan siapa itu Tuhan Yang Maha Berkehendak dengan lagu-lagu yang dilantunkan kepada anak sedari anak masih bayi. Oleh karena itu, jika kita perhatikan lebih mendalam, syair dodaidi banyak dimulai dengan nama-nama Allah ataupun juga salawat nabi. Para orang tua ingin anak-anaknya banyak mendengar nama-nama Allah sebagai kosa kata awal yang mereka kenal.  

Pendidikan
Nampaknya masyarakat Aceh sedari dulu percaya bahwa pendidikan harus mulai diajarkan semenjak usia sangat dini sampai kepada kematian. Seperti hadist yang berbunyi “tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”. Anak bayi yang sedang ditimang atau diayun tidak mengerti benar apa yang dimaksud dalam   syair dodaidi yang dilantunkan, akan tetapi  apabila dilantunkan berulang-ulang maka akan tertanam di dalam benak mereka syair-syair yang sarat makna tersebut. Ketika nanti sudah dewasa diharapkan mereka akan lebih mengerti apa yang tersirat dan tersurat dalam syair-syair tersebut sehingga diharapkan dapat menjalani kebaikan dan petuah-petuah yang ada di dalamnya.

Harapan  
Dalam contoh salah satu syair dodaidi tersebut seorang ibu menginginkan anaknya cepat rayeuk atau besar. Sebagai makhluk hidup,   anak manusia akan tumbuh dan berkembang.  Harapannya anak kan tumbuh dengan sehat, baik, pintar  dan tak kurang satu apapun. Terdengar seperti sebuah do’a yang dilantunkan berulang-ulang.

Pengenalan Sejarah
Dahulunya, Aceh juga dikenal dengan daerah para pejuang. Tak hanya para lelaki yang pergi berperang, pahlawan-pahlawan perempuan telah lahir di tanah Aceh. Kegigihan membela agama dan bangsa  dalam menumpas  musuh menjadi momok yang menakutkan untuk para musuh tersebut. Dalam syair dodaidi, Ibu mengingatkan anak tentang semangat berjuang para leluhur yang pernah lahir dan mendiami Aceh.

Dalam versi lain dodaidi, ada syair yang menyematkan Banta Seudang. Seperti syair dodaidi berikut ini:
                Bagah Rayeuk Banta Seudang
                (Cepat besar Banta Seudang)

Banta Seudang adalah nama anak seorang raja yang pernah hidup di Aceh. Banta Seudang dan ayahnya pernah dicampakkan oleh pamannya karena ayahnya dianggap sudah tidak mampu mengurus kerajaan lagi. Namun Banta Seudang tak pernah putus asa. Banta Seudang dikisahkan mencari obat mata untuk ayahnya dengan penuh perjuangan. Banta Seudang disimbolkan sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya. Nama Banta seudang disebutkan dalam dodaidi tersebut agar anak tidak lupa akan budi pekerti para leluhur terdahulunya.

Karakter Diri dan Kecintaan Kepada Agama dan Negara
Dalam syair tersebut anak diajarkan untuk memerangi musuh agama dan musuh negara. Anak diajarkan untuk kuat dan berprinsip teguh demi membela kebenaran apabila tanah dan hak-haknya sudah terjajah oleh orang-orang yang memiliki keinginan menguasai negeri yang kita cintai. Anak diharapkan menjadi sosok pribadi yang kuat dan juga tak takut melawan kebatilan.

Mengajarkan Keikhlasan untuk Kebenaran
Di dunia ini  tidak ada  ibu yang tega membiarkan anaknya mati, kecuali ibu yang tidak punya hati nurani. Perempuan Aceh sedari dulu diibaratkan dengan perempuan tegar dan kuat dengan prinsip hidup yang mereka pegang. Perempuan Aceh berani mengikhlaskan anak-anaknya membela bangsa dan agama untuk tidak takut mati dan siap merelakan ,jika anaknya mati dengan alasan agama dan bangsa terdapat dalam syair ini.

Tidak Hanya Kaum Mak, tetapi juga Ayah
Saat ini, berbagai penelitian menunjukan bahwa bounding (ikatan kuat) anak tidak hanya dimiliki  ibu dan anak. Ayah turut serta diharapkan memberi peran dalam pendidikan dan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, budaya mengayun dan juga melantunkan dodaidi bukan hanya milik ibu semata. Rafly, seorang seniman dari Aceh pernah melantunkan syair yang bisa dijadikan syair dodaidi pada anak.
Rafly si Bijeh Mata
Teungeut hai aneuk jantong ayahnda
Tidurlah Nak, jantung ayah
Yang dodo sayang lam ayon ija
Yang dodo sayang dalam ayunan kain
Sayang sayang jantong ayahnda
Sayang-sayang jantong ayahnda
Dodo sayang lam ayon ija
Dodo sayang dalam ayunan kain
Sinyak meutuah dengoe yah peugah
Anak baik budi dengar yang Ayah bilang
Ngak teunang hudep ngon seujahtra
Agar tenang hidup dan sejahtera
Kalimah thaibah ta pujoe Allah
Kalimat taibah memuja Allah
Seulamat hudep akhirat dunya
Selamat hidup akhirat dan dunia
Sayang sayang jantong ayahnda
Sayang-sayang jantung ayah
Kasih sayang si bijeh mata
Kasih sayang si bijeh mata (idiom untuk anak tersayang/buah hati)




Akankah Dodaidi Tergerus Zaman?
Berkembangnya zaman, membentuk orang-orang yang berada di era milenial ini lebih melek dunia informasi, tekhnologi bahkan juga seni. Sayangnya  seni-seni yang telah turun temurun di Aceh ini semakin lama semakin terlupakan. Dodaidi memiliki pemaknaan yang sayang jika pada akhirnya tergerus zaman dan tidak diwariskan kaum-kaum milineal kepada para penerusnya. Pelajaran-pelajaran dalam dodaidi yang dilantunkan bukan hanya milik orang-oranf zaman kerajaan, bukan hanya punya Aceh di masa lalu, tapi juga punya aceh kini dan juga nanti.

 
Untuk melestarikan budaya Aceh lomba dodaidi digelar. Foto oleh acehprov.go.id

No comments:

Post a Comment