instagram

@soratemplates

Sunday, October 20, 2019

Seni Ukir dalam Sejarah dan Budaya Aceh

8:38 AM 1 Comments

Awal Januari 2012, datanglah serombongan keluarga mempelai pria nun jauh dari ujung barat Sumatera berniat meminang gadis Sunda. Mereka adalah  rombongan calon suami saya yang terdiri dari  sanak saudara baik yang dari Aceh atau pun yang dari Jabodetabek. Tak lupa mereka membawa seserahan dan sirih yang bentuknya sedemikian rupa. Sang penata rias saya berdecak kagum dan heran melihat kekhasan seserahan Aceh yang umumnya  memiliki pola-pola khas Aceh dalam kain-kainan, perhiasan, bahkan juga aneka kue yang terukir dengan cantiknya.

Ya, seni ukir Aceh diakui keindahannya sejak dahulu kala. Selain budaya tutur yang kental di Aceh, budaya seni  ukir Aceh begitu khas dan terkenal di kancah nasional dan internasional.

Umumnya ukiran aceh memiliki ciri khusus pada motif-motif yang dihasilkan. Motif tersebut umumnya identik dengan keislaman, motif bungong (bunga), dan motif-motif flora. Namun jarang ditemui motif fauna.  Berbagai ukiran dapat kita temui pada barang, benda, atau makanan yang ada di Aceh. Kesemuanya memiliki nilai historis dan juga pemaknaan khusus dari zaman dahulu hingga kini.

Tempat Sirih

Sejak dahulu, Aceh dikenal dengan orang-orang yang gemar mengunyah sirih. Sampai sekarang di beberapa daerah masih ada beberapa orang yang juga melakukan kebiasaan tersebut. Selain dinikmati sendiri, sirih juga disajikan kepada tamu-tamu sebagai pertanda memuliakan tamu  atau yang dikenal dengan istilah ‘peumulia jamee’.   
Foto dari cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Wadah sebagai atribut khusus memakan sirih yang terbuat dari emas dan perak zaman dahulu, disebut dengan batee ranup dan batee karah. Batee ranub terbuat dari tembaga, tetapi batee karah dahulu sering dibuat dari emas.

Zaman kerajaan, batee ranup dan batee karah diukir dengan ukiran yang halus. Pengerjaannya cukup suit dan membutuhkan waktu yang lama. Dikerjakan hanya dengan alat-alat sederhana oleh  pengrajin ukiran yang sudah senior. 

Menurut Harian Analisa 20 Juli 1978, harga satu karah berkisar antara Rp. 200 ribu – Rp.300 ribu. Harga yang cukup lumayan mahal saat itu dikarenakan butuh ketelitian, kesabaran, dan juga kemahiran dalam mengukir wadah sirih tersebut.

Perhiasan dan Motif Pinto Aceh yang Melegenda
Aceh awalnya merupakan daerah kerajaan. Semenjak itu pula, perhiasan-perhiasan yang dipakai oleh orang-orang kerajaan menjadi pusat perhatian. Dahulu, berbagai perhiasan itu dipakai di kepala, telinga, leher, dada , jari tangan,pinggang dan kaki.

Perhiasan-perhiasan tersebut memiliki ukiran-ukiran yang unik dan khas, mulai dari dedaunan, bunga-bunga hutan sampai motif Pinto Aceh yang melegenda. Motif Pinto Aceh sendiri ditemukan sekitar tahun 1939. Namun ada juga yang sumber yang menyebutkan motif   Pinto Aceh ditemukan pada tahun 1935. Utoh (pengrajin perhiasan) yang menemukan ukiran motif Pinto Aceh adalah Utoh Mahmud Ibrrahim atau yang biasa dikenal Utoh Mud. Ukiran perhiasan dengan motif Pinto Aceh ini terinspirasi dari pengamatan Utoh Mod pada pinto khop yang merupakan peninggalan sejarah kerajaan Aceh. Pintu khop tersebut adalah pintu bagian belakang istana kerajaan Aceh di mana tempat keluar-masuk permaisuri dan dayang-dayang kerajaan  menuju jalan Bustanussalatin. Kini, motif ukiran Pinto Aceh tidak hanya dijumpai pada perhiasan saja, tetapi dapat dijumpai juga pada ukiran kayu atau ornamen-ornamen interior bangunan.
 
Pinto Aceh pernah juga dinobatkan sebagai warisan budaya Indonesia tak benda yang berasal dari Aceh pada tahun 2015. Motif ini pun sangat terkenal di tanah air dan mancanegara.

Perhiasan-perhiasan yang penuh ukiran dapat terbuat dari emas, tembaga  ataupun suasa. Ukiran dengan motif khas Aceh pada saat ini masih bisa kita temukan di toko-toko emas, toko perhiasan, ataupun toko-toko souvenir. Dapat digunakan pada acara santai, resmi, ataupun pesta pernikahan.

Senjata Tradisional

Rencong atau rincong adalah senjata asli Aceh yang telah ada sejak zaman kerajaan. Dipercaya telah ada sejak masa pemerintahan Ali Mughayat Syah yaitu Sultan Aceh yang pertama.
Bentuk unik dari senjata tradisional ini  dipercaya oleh masyarakat Aceh sebagai simbol dari kata ‘bismillah’, yang dapat diartikan ‘dengan menyebut nama Allah’. Bagian-bagian dari rencong sendiri sangat khas dan unik. Ukiran-ukiran yang ada pada gagang dan sarung rencong, kebanyak bermotif tumbuh-tumbuhan atau bunga. Saat itu ada pantangan orang Aceh yang muslim untuk membuat bentuk-bentuk makhluk bernyawa sebagai ukiran-ukiran khas Aceh.

Kue Khas Aceh (Dodol Aceh, Meuseukat, dan Wajik)
Dodol Aceh memang rasanya hampir mirip dengan dodol-dodol yang bearasal dari Jawa Barat. Namun ada keunikaan tersendiri dari dodol Aceh yang biasa dibuat pada seserahan pesta perkawinan. Dodol Aceh tersebut diukir dengan sangat cantik di atas nampan besar.

Ukiran tersebut umumnya berupa aneka jenis dedaunan, bunga mawar, bahkan sampai ukiran Pinto Aceh yang cukup indah. Dodol Aceh berbeda dengan meuseukat. Dodol Aceh menggunakan gula merah dalam pembuatannya sedangkan meuseukat menggunakan nanas, gula, tepung, dan juga mentega. Meuseukat diibaratkan sebagai ‘ulee’ atau kepala kue di Aceh. Alasannya, meuseukat umumnya hanya dibuat pada saat upacara-upacara besar seperti perkawinan.

Balee dan Rumoh Aceh
 Bangunan tradisional Aceh yang multifungsi disebut dengan balee atau balai. Balee bentuknya terbuka pada bagian dinding. Banyak jenis dan fungsi balee yang bisa digunakan untuk tempat berisitirahat sementara, menjamu tamu, atau sebagai tempat musyawarah. Balee meunasah digunakan masyarakat gampong untuk bermusyawarah atau mengaji. Ada juga balee yang dibuat secara pribadi yang disebut balee rumoh. Di balee, terdapat ukiran-ukiran yang mengelilingi balee, ukirannya pun sangat beragam.

Sama seperti halnya balee, rumoh Aceh didirikan di atas tiang kayu (tameh) dengan tinggi mencapai 1.5 -2 meter. Rumah Aceh terdapat empat bagian. Yaitu seuramoe keue sebagai tempat menerima tamu. Seuramo teungoh berfungsi untuk kamar tidur keluarga, ruang-ruang di bagian ini digunakan juga untuk memandikan mayat atau saat ada kenduri. Seuramo likot adalah ruangan untuk tempat makan, dapur atau berkumpulnya anggota keluarga untuk saling bercengkrama. Terakhir adalah ruang bawah yang digunakan untuk menyimpan hasil pertanian atau perkebunan.
dokumentasi @iloveaceh


Desain dari rumah adat Aceh ini sangat unik dan memiliki filosofis tersendiri. Baik pada bentuk rumah dan juga ukiran. Ukiran pada rumoh Aceh sangat cantik dan khas. Konon, dahulu jumlah dan banyaknya motif ukiran  rumah Aceh  menentukan  kemampuan ekonomi pemilik rumah adat tersebut.

Batee Nisan (Batu Nisan)
Aceh terkenal dengan kepandaiannya dalam mengukir batee nisan atau batee jeurat. Sejarah membuktikan dalam Tarikh Negeri Kedah atau Hikayat Murong Mahawangsa (Sekitar tahun 1400 SM) tercatat pengasah dan pemahat/pengukir dalam jumlah yang sangat besar. Pengolahan batu yang berasal dari Pulo Breueh dan Pulo Batee diolah di Meuraksa, sehingga batu nisan di Aceh disebut juga dengan batee Meraksa.
Nisan Aceh dalam sebuah pameran. Foto oleh bandaaceh.tourism.com

Ukiran dalam batu nisan Aceh zaman dahulu, dibedakan antara kuburan perempuan dan kuburan laki-laki-laki. Pada batu nisan inong (perempuan) motif ukirannya banyak bulatan yang disebut dengan anting anting. Menjadi pembeda dengan batu nisan agam (lelaki). Selain itu pada  batu nisan Aceh juga terukir motif bungong kalimah yang merupakan kaligrafi Arab yang tertuiskan kalimat syahadat, hadits, syair, atau nasihat tentang kematian.



Dari beberapa pemaparan mengenai  hasil karya ukir dan sejarah yang ada di Aceh. Budaya masyarakat Aceh di bidang seni ukir dapat dibilang sangat tinggi. Namun kini, sudah jarang kita temui orang-orang ahli ukir yang meneruskan kekayaan budaya Aceh ini. Nampaknya pembinaan keahlian mengukir  untuk generasi muda di era milenial ini masih dibutuhkan   agar kekayaan Aceh yang penuh nilai dapat dilestarikan. Bahkan bukan tidak mungkin bisa meningkatkan  kehidupan ekonomi para pengukir muda aceh dan kedepan karyanya bisa lebih dikenal dunia.






Dodaidi Menguatkan Karakter Masyarakat dan Budaya Aceh

7:44 AM 0 Comments


Saya mengagumi kemampuan bertutur dan berbahasa orang-orang di wilayah Sumatera terutama Aceh, di mana saat ini saya tinggal. Tahun 2012 saya memutuskan tinggal di daerah yang bukan hanya memiliki keindahan alam namun juga memiliki begitu banyak adat istiadat dan kebudayaan. Aceh, banyak mengajarkan saya banyak hal. Dari hal kecil hingga hal-hal besar yang bagi saya begitu unik dan saya tidak bisa jumpai di tempat lain.

Salah satu budaya yang menjadi perhatian saya adalah budaya menidurkan anak yang penuh dengan makna. Budaya menimang-nimang bayi dalam dekapan atau ayunan di Aceh, berbeda dengan beberapa daerah yang pernah saya kunjungi. Di Indonesia terdapat nyanyian Nina Bobo, dalam masyarakat internasional dikenal dengan lullaby, sedangkan di Aceh ada syair  khusus yang disenandungkan  sebagai cara menidurkan anak yang disebut dengan istilah dodaidi. Dodaidi dijadikan salah satu kebiasaan orang tua dalam melantunkan tembang khusus sebelum anaknya tidur. Di dalamnya terdapat puji-pujian kepada Allah SWT, salawat salam kepada Nabi Muhammad SAW, harapan tumbuh kembang anak dan juga penanaman karakter anak yang ketika dewasa kelak karakter baik tersebut dapat dijumpai pada anak.

Dodaidi berasal dari kata doda dan idi. Peudoda memiliki arti ‘bergoyang’ dan idi yang lazim juga disebut dodi memiliki arti kata ‘berayun’. Umumnya anak bayi ketika dilantunkan syair dodaidi berada dalam ayunan ija (ayunan kain), ditimang, atau ditidurkan saja di atas kasur.

Nyanyian adalah bahasa universal. Sampai sekarang, jika saya mendengarkan lantunan dodaidi yang dinyanyikan sepenuh hati, mata saya selalu berkaca-kaca. Bahasa Aceh bukan bahasa asli daerah tempat saya dilahirkan dan tumbuh dewasa, namun seni bernyanyi adalah seni yang dapat dirasakan oleh hati. Walaupun awalnya saya tidak terlalu faham arti dari syair  dodaidi namun syairnya seakan menyentuh relung hati saya yang paling dalam. 

Bertahun-tahun di Aceh,  kosa kata bahasa Aceh saya semakin bertambah,  akhirnya saya mulai mengerti dan memaknai apa yang ada  dalam syair dodaidi.

Allah hai do dodaidi
Allah hai do dodaidi
Boh gadong bi boh kaye uteun
Buah gadung buah-buahan dari hutan
Rayeu si Nyak hana peu mak bri
Besar si Anak entah apa ibu beri
Aib ngeun keuji ureng donya keun
Aib dan keji orang katakan
Allah hai do dodaida
 Allah hai do dodaida
seulayang  blang kah putoh talo
Layang-layang di sawah sudah putus tali
Beu rijang rayeuk muda sedang
Cepatlah besar  (remaja)
Ta jak bantu prang ta bela nangroe
Ikut pergi berperang untuk membela bangsa
Wahai aneuk bek ta duk le
Wahai anakku janganlah duduk (berdiam diri) lagi
Beudoh sare ta  bela bangsa
Bangkit bersama membela bangsa
Bek ta takut ke darah ile
Janganlah takut kepada darah mengalir
Adak pih  mate, poma ka rela
Walaupun mati, ibu telah rela
Jak lon tateh, meujak lon tateh
Mari ibu tu tuntun, kemarilah ibu tuntun
Bedoh hai aneuk ta  jak u Aceh
Bangunlah anakku kita ke Aceh
Meubeu bak on  ka meubeu timphan
Baunya daun telah berbau timphan
Meubeu badan bak sinyak Aceh
Seperti wangi badan si anak Aceh
Allah hai po ilahon hak
Allah yang sang pencipta yang punya kehendak
Gampong jarak han troe lon wo
Kampong jauh tiada sampai ku pulang
Adak na  bule, ulon tereubang
Andaikan punya sayap, ibu akan terbang
Mangat rijang troek u Nangroe
Agar cepat sampai ke Nangroe Aceh
Allah hai jak loen  timang treuk
Kemarilah nak Ibu timang-timang
Sayang  riyeuk  di sipreuk pante
Sayangnya ombak memecah pantai
Oh rayeuk  sinyak yang puteh meupreuk
Jika anak ini sudah besar nantinya
Toh sinaleuk gata boh hate
Di manakah engkau akan berada nanti wahai buah hatiku?
(Syair Dodaidi yang dinyanyikan oleh group musik Nyawong)




Dodaidi biasa disebut juga sebagai ‘syair peuayon aneuk’ atau ‘peurateb aneuk’ dalam kebudayaan Aceh. Peuayon aneuk merupakan lantunan syair untuk menidurkan anak. Di dalamnya terdapat kearifan lokal yang bisa didapatkan dari penggalian teks secara tersirat dan tersurat  dalam dodaidi.

Penanaman Ketauhidan dan Ajaran Agama
Aceh terkenal dengan keislaman yang cukup kental. Dodaidi dijadikan sarana penanamanan ketauhidan yang utama, yaitu kepada Allah SWT. Orang tua mengajarkan siapa itu Tuhan Yang Maha Berkehendak dengan lagu-lagu yang dilantunkan kepada anak sedari anak masih bayi. Oleh karena itu, jika kita perhatikan lebih mendalam, syair dodaidi banyak dimulai dengan nama-nama Allah ataupun juga salawat nabi. Para orang tua ingin anak-anaknya banyak mendengar nama-nama Allah sebagai kosa kata awal yang mereka kenal.  

Pendidikan
Nampaknya masyarakat Aceh sedari dulu percaya bahwa pendidikan harus mulai diajarkan semenjak usia sangat dini sampai kepada kematian. Seperti hadist yang berbunyi “tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”. Anak bayi yang sedang ditimang atau diayun tidak mengerti benar apa yang dimaksud dalam   syair dodaidi yang dilantunkan, akan tetapi  apabila dilantunkan berulang-ulang maka akan tertanam di dalam benak mereka syair-syair yang sarat makna tersebut. Ketika nanti sudah dewasa diharapkan mereka akan lebih mengerti apa yang tersirat dan tersurat dalam syair-syair tersebut sehingga diharapkan dapat menjalani kebaikan dan petuah-petuah yang ada di dalamnya.

Harapan  
Dalam contoh salah satu syair dodaidi tersebut seorang ibu menginginkan anaknya cepat rayeuk atau besar. Sebagai makhluk hidup,   anak manusia akan tumbuh dan berkembang.  Harapannya anak kan tumbuh dengan sehat, baik, pintar  dan tak kurang satu apapun. Terdengar seperti sebuah do’a yang dilantunkan berulang-ulang.

Pengenalan Sejarah
Dahulunya, Aceh juga dikenal dengan daerah para pejuang. Tak hanya para lelaki yang pergi berperang, pahlawan-pahlawan perempuan telah lahir di tanah Aceh. Kegigihan membela agama dan bangsa  dalam menumpas  musuh menjadi momok yang menakutkan untuk para musuh tersebut. Dalam syair dodaidi, Ibu mengingatkan anak tentang semangat berjuang para leluhur yang pernah lahir dan mendiami Aceh.

Dalam versi lain dodaidi, ada syair yang menyematkan Banta Seudang. Seperti syair dodaidi berikut ini:
                Bagah Rayeuk Banta Seudang
                (Cepat besar Banta Seudang)

Banta Seudang adalah nama anak seorang raja yang pernah hidup di Aceh. Banta Seudang dan ayahnya pernah dicampakkan oleh pamannya karena ayahnya dianggap sudah tidak mampu mengurus kerajaan lagi. Namun Banta Seudang tak pernah putus asa. Banta Seudang dikisahkan mencari obat mata untuk ayahnya dengan penuh perjuangan. Banta Seudang disimbolkan sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya. Nama Banta seudang disebutkan dalam dodaidi tersebut agar anak tidak lupa akan budi pekerti para leluhur terdahulunya.

Karakter Diri dan Kecintaan Kepada Agama dan Negara
Dalam syair tersebut anak diajarkan untuk memerangi musuh agama dan musuh negara. Anak diajarkan untuk kuat dan berprinsip teguh demi membela kebenaran apabila tanah dan hak-haknya sudah terjajah oleh orang-orang yang memiliki keinginan menguasai negeri yang kita cintai. Anak diharapkan menjadi sosok pribadi yang kuat dan juga tak takut melawan kebatilan.

Mengajarkan Keikhlasan untuk Kebenaran
Di dunia ini  tidak ada  ibu yang tega membiarkan anaknya mati, kecuali ibu yang tidak punya hati nurani. Perempuan Aceh sedari dulu diibaratkan dengan perempuan tegar dan kuat dengan prinsip hidup yang mereka pegang. Perempuan Aceh berani mengikhlaskan anak-anaknya membela bangsa dan agama untuk tidak takut mati dan siap merelakan ,jika anaknya mati dengan alasan agama dan bangsa terdapat dalam syair ini.

Tidak Hanya Kaum Mak, tetapi juga Ayah
Saat ini, berbagai penelitian menunjukan bahwa bounding (ikatan kuat) anak tidak hanya dimiliki  ibu dan anak. Ayah turut serta diharapkan memberi peran dalam pendidikan dan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, budaya mengayun dan juga melantunkan dodaidi bukan hanya milik ibu semata. Rafly, seorang seniman dari Aceh pernah melantunkan syair yang bisa dijadikan syair dodaidi pada anak.
Rafly si Bijeh Mata
Teungeut hai aneuk jantong ayahnda
Tidurlah Nak, jantung ayah
Yang dodo sayang lam ayon ija
Yang dodo sayang dalam ayunan kain
Sayang sayang jantong ayahnda
Sayang-sayang jantong ayahnda
Dodo sayang lam ayon ija
Dodo sayang dalam ayunan kain
Sinyak meutuah dengoe yah peugah
Anak baik budi dengar yang Ayah bilang
Ngak teunang hudep ngon seujahtra
Agar tenang hidup dan sejahtera
Kalimah thaibah ta pujoe Allah
Kalimat taibah memuja Allah
Seulamat hudep akhirat dunya
Selamat hidup akhirat dan dunia
Sayang sayang jantong ayahnda
Sayang-sayang jantung ayah
Kasih sayang si bijeh mata
Kasih sayang si bijeh mata (idiom untuk anak tersayang/buah hati)




Akankah Dodaidi Tergerus Zaman?
Berkembangnya zaman, membentuk orang-orang yang berada di era milenial ini lebih melek dunia informasi, tekhnologi bahkan juga seni. Sayangnya  seni-seni yang telah turun temurun di Aceh ini semakin lama semakin terlupakan. Dodaidi memiliki pemaknaan yang sayang jika pada akhirnya tergerus zaman dan tidak diwariskan kaum-kaum milineal kepada para penerusnya. Pelajaran-pelajaran dalam dodaidi yang dilantunkan bukan hanya milik orang-oranf zaman kerajaan, bukan hanya punya Aceh di masa lalu, tapi juga punya aceh kini dan juga nanti.

 
Untuk melestarikan budaya Aceh lomba dodaidi digelar. Foto oleh acehprov.go.id