instagram

@soratemplates

Wednesday, April 24, 2019

Saya Banda Aceh Dahulu Pasundan, Fakta Betahnya Pendatang


Terkesima  Pandangan Pertama

Menjelang siang, di suatu hari di penghunjung 2011. Saya sibuk memberi kabar ke orang tua bahwa saya telah sampai di Aceh. Sambil menunggu calon suami saya datang menjemput, saya perhatikan sekeliling Bandara  Sultan Iskandar Muda (SIM), mencoba membaca raut wajah orang-orang di sekeliling bandara termasuk para supir yang menawarkan saya taxi tanpa merek. Mereka menawari dengan santun, tanpa paksaan. Di keliling saya orang lalu-lalang menggunakan Bahasa Aceh yang sayangnya saya hanya bisa mengira-ngira.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, calon suami saya pun tiba. Di tahun tersebut saya datang dengan niatan menjumpai calon mertua saya.  Setelah meninggalkan bandara dan  masuk ke wilayah Kota Banda Aceh, yang pertama  saya perhatikan sekeliling adalah jalan dan langit. Sepanjang jalan saya lihat Kota Banda Aceh begitu bersih dan tidak banyak terjadi kemacetan seperti beberapa kota besar lainnya. Langit pun terlihat bersih dari polusi yang mengganggu, seakan saya ingin menghirup udara di kota ini dengan penuh khidmat.

Saya saat itu terkesima akan penataan kota dengan tampilan yang menawan, padahal 26 Desember 2004  telah terjadi bencana tsunami yang banyak merenggut korban jiwa di kota ini. Namun Kota Banda Aceh menunjukkan keseriusannya terhadap recovery, tak terkecuali di bidang lingkungan. Terbukti pada bulan November 2011, Kota Banda Aceh masuk ke dalam 60 kabupaten/kota di Indonesia yang ditetapkan sebagai daerah yang masuk dalam Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH). Acara tersebut  termasuk dalam rangkaian peringatan puncak Hari Tata Ruang 2011.

Pariwisata di Kota Sejuta Cerita

Ulee Lheu, dokumentasi pribadi

Hampir 8 tahun saya mendiami kota ini, bukan lagi sebagai gadis Pasundan di mana Bogor menjadi kota kelahiran. Kini saya telah berumah tangga dan mengais rezeki di kota ini, seorang gadis pasundan pun akhirnya telah resmi memiliki KTP Aceh, setelah resmi dipinang seorang lelaki Aceh 2012 silam.

Selama hampir 8 tahun tersebut saya pun sesekali menjelajahi pariwisata  di kota ini. Bidang pariwisata memiliki daya tarik  tersendiri, apalagi untuk para pendatang. Kota Banda Aceh memiliki pariwisata lengkap yang dibalut dengan sejarah masa lampau, religi,  dan juga pesona alam.

Pantai Ulee Lheue contohnya, pantai ini adalah daerah pariwisata  yang sekaligus  menjadi tempat bersejarah di mana rumah-rumah penduduk dan sarana ibadah  terkena imbas dari terjangan tsunami. Bahkan sampai sekarang kita masih bisa melihat bukti sejarah belasan tahun silam di sekeliling tempat ini.

Selain pariwisata alam, Kota Banda Aceh menawarkan pariwisata religi. Pariwisata yang sekaligus mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT. Beberapa di antaranya adalah Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Baiturrahim, dan PLTD Apung. Masjid Raya Baiturrahman sejak  dulu berdiri kokoh di tengah pusat Kota Banda Aceh. Bagi para pelancong  belum lengkap rasanya jika datang ke Banda Aceh tapi tidak singgah di masjid ini. Masjid ini kini berdiri megah dan indah, walaupun dahulu terkena dampak tsunami. Masjid ini sering disebut mirip dengan Masjid Nabawi di Madinah karena kini sudah dipercantik dengan payung elektrik yang telah diresmikan pada 13 Mei 2017 oleh wakil Presiden Republik Indonesia, H. Yusuf Kalla.

Selain Masjid Raya Baiturrahman, ada beberapa masjid yang walaupun telah diterjang tsunami masih kokoh sampai sekarang. Salah satunya adalah Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, yang memiliki sejarah di masa lampau. Masjid ini merupakan masjid peningalan Sultan Aceh pada Abad ke-17. Tak jauh dari Masjid ini ada  PLTD Apung, yang merupakan kapal besar generator listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN). Besar kapal ini tak tanggung-tanggung, luas kapal ini mencapai 1900 meter persegi dengan panjang kurang lebih 63 meter.  Kapal PLTD Apung ini terdampar di perumahan warga saat terjadi tsunami 2004 silam. Melihat dan menaiki kapal ini membuat kita merinding membayangkan gelombang tsunami yang kuat dan juga Keagungan Allah SWT, bagi-Nya tidak ada yang tidak mungkin.

Ruang Terbuka Hijau Kota Banda Aceh

Hutan Kota Banda Aceh, dokumentasi pribadi

Kota Banda Aceh memperkuat komitmennya di bidang lingkungan salah satunya dengan mendirikan beberapa Ruang Terbuka Hijau (RTH). Ruang Terbuka Hijau menurut Purnomohadi (2002) memiliki beberapa fungsi di antaranya: menetralisir limbah buangan penduduk, menghasilkan oksigen, menyimpan air tanah, mentransfer air tanah sehingga dapat mempengaruhi penurunan suhu lingkungan, meredam kebisingan, dan juga mengurangi kekuatan angin.

Ruang Terbuka Hijau di Banda Aceh yang sekaligus dijadikan tempat pariwisata adalah Hutan Kota Tibang. Hutan Kota Tibang disebut juga Hutan Kota BNI, dikarenakan hutan kota ini dibangun berkat adanya kerjasama Pemerintah Kota Banda Aceh dengan BNI sebagai pengembangan dari program CSR BNI di bidang BNI Go Green.

Hutan Kota Tibang membuat  masyarakat Banda Aceh, juga para pendatang betah untuk berlama-lama di tempat ini. Bukan hanya dikarenakan sejuknya tempat ini semata, tapi sekaligus juga sebagai arena cantik untuk berswafoto. Di sini juga terdapat arena bermain anak. Saya pun kerap kali menjelajahi hutan kota ini, selain untuk rekreasi keluarga, hutan kota ini juga kerap saya jadikan tempat untuk mengenalkan jenis-jenis pepohonan kepada anak-anak saya. Terutama pepohonan yang jarang ada di Bogor, di kota kelahiran saya.

Kota Banda Aceh juga meraih beberapa kali  penghargaan Adipura. Penghargaan Adipura diberikan kepada Kota Banda Aceh sebagai bentuk pengakuan pemerintah pusat atas keberhasilan Kota Banda Aceh mengelola kebersihan lingkungan.  

Keramahan Warga, Budaya Lokal, dan Lezatnya Kuliner Khas Banda Aceh dalam  Kenduri

Ayam Tangkap, via anakjajan.com

Selama tinggal di Banda Aceh, awalnya saya sempat kaget. Di kota ini, hampir setiap  beberapa minggu sekali  saya diundang untuk menghadiri kenduri. Kenduri dalam mayarakat Aceh mencakup beberapa hal di antaranya: sunatan anak, pesta pernikahan, turun tanah atau aqiqah, penempatan rumah baru, Maulid Nabi dan lain sebagainya.

Bagi masyarakat  Banda Aceh, budaya kenduri menjadi hal yang biasa dijadikan sebagai ajang silaturahmi. Bagi para pendatang tidak hanya sekedar itu, kenduri dapat dijadikan sebagai sarana mempelajari keramahan warga, budaya lokal, serta mengenal kekhasan kuliner kota ini. Seperti yang saya rasakan.

Keramahan warga kota terpancar pada senyum dan canda yang dilontarkan saat perjumpaan. Begitu pula saat kenduri. Orang-orang yang lalu-lalang pada saat kenduri  bukan hanya saling berkumpul, tetapi juga mengedepankan  budaya tolong-menolong agar kenduri berjalan dengan lancar. Bukan juga hanya berkumpul saat penuh suka seperti layaknya pesta pernikahan, akan tetapi pada acara penuh duka seperti kematian dan tahlillan juga dilakukan. Warga Banda Aceh saling tolong menolong membantu sesama. Saya pernah bertanya mengenai ringannya mereka menolong sesama, ternyata hal ini telah menjadi kebiasaan turun temurun nenek moyang terdahulu.

Jika ada kenduri artinya ada makan-makan. Di sini kita bisa merasakan berbagai kuliner khas Kota Banda Aceh.   Kuliner tersebut contohnya adalah Ayam Tangkap, Kuah Beulangong, Timphan, Kue Bhoi dan lain sebagainya.

Ayam Tangkap adalah ayam  goreng yang sebelumnya telah melalui proses perendaman dengan i u (air kelapa) dan juga berbagai bumbu khas pilihan. Digoreng dengan daun temurui, daun salam koja dan juga daun pandan sehingga wangi Ayam Tangkap begitu khas sekali. Selain Ayam Tangkap, Kuah Beulangong pun menjadi menu yang dapat kita jumpai pada saat kenduri di Kota Banda Aceh.

Kuah Beulangong adalah masakan sejenis gulai yang umumnya bahan utamanya dari daging sapi atau kambing. Uniknya Kuah Beulangong ini dimasak dengan menambahkan nangka, pisang kepok, kelapa gongseng dan bumbu rempah lainnya. Disebut Kuah Beulangong dikarenakan masakan ini dimasak dalam belanga (wajan) yang besar. Pembuatan Kuah Beulangong ini umumnya dilakukan oleh para pria dengan bergotong royong.

Menghargai Keberagaman

Aceh yang dipercayai juga memiliki singkatan dari  Arab, China,  Eropa dan Hindia. Memberi keragaman dalam banyak hal. Kota Banda Aceh pun mendapatkan imbas dari hal tersebut, tempat-tempat bersejarah masuknya keberagaman budaya dapat dilihat dari beberapa tempat di Banda Aceh.
Peunayong, adalah salah satu pemukiman  etnis Tionghoa yang telah ada semenjak masa kepemimpinan Sultan Iskandar  Muda. Sejarah menyebutkan, hubungan Aceh dan China telah ada pada abad ke-17 Masehi. Peunayong berasal dari kata “Peu Payong yang berarti memayungi atau melindungi. Sejarah mengisahkan, dahulu kawasan Peunayong adalah tempat di mana Sultan menjamu para tamu yang berasal dari China.

Keberagaman pun bisa kita lihat dalam tempat-tempat beribadah. Di kawasan Peunayong ini terdapat Vihara Dharma Bhakti. Selain itu ada Vihara lain yang ada di Kota Banda Aceh yaitu Vihara Buddha Sakyamuni, Maitri, dan Dewi Samudera. Selain itu juga terdapat Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat dan juga Gereja Methodist.

Walaupun Aceh menerapkan syariat islam, bukan berarti masyarakat yang berbeda agama tidak bisa hidup berdampingan. Di antara bangunan agama tersebut di Jalan Panglima Polem juga berdiri megah sebuah masjid. Sejarah dan pengakuan para pemuka agama setempat juga membuktikan bahwa keberagaman dalam memeluk agama masing-masing tidak membuat masyarakat “bergesekan” dikarenakan beda keyakinan. Warga Kota Banda Aceh memaknai betul arti  dalam sebuah ayat Al-Qur’an, QS. Al-Kafirun : 6 “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”.

Saya Banda Aceh, Dahulu Pasundan

Pemaparan di atas dan waktu mengungkap fakta cukup membuktikan saya yang setelah hampir 8 tahun lebih tinggal di Kota Banda Aceh ini, memiliki banyak alasan untuk merasa betah tinggal di kota ini. Kota yang menawarkan sejuta cerita yang dapat saya bagikan kepada para khalayak ramai terlebih para pendatang. Saya pun mantap berujar : Saya Banda Aceh.

“Tunggu apalagi? Yok, kita ke Banda Aceh!”


12 comments:

  1. Sekarang sudah jadi Aceh tulen ya kak dan pastinya cinta Banda Aceh.😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah Yel, terleih makanan meu-Aceh that that. Pulkam ke Bogor ribut makan keasaninan wakakakak

      Delete
  2. ACEH = Arab, China, Eropa dan Hindia
    Bukan Asia :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks masukannya, padahal ini bolak-balik edit. Mungkin imbas begadang dari jam 10 malam sampai jam 5 pagi ada aja yang kelewat hihi. Tapi draft PDFnya udah diserahin ke penyelenggara sih.

      Delete
  3. Toss! Saya warga jakarta yang betah di Aceh... Sudah lima belas tahun hidup di Aceh, alhamdulillah.. Di Aceh, juga lebih mungkin untuk kita mobile, karena jalan tidak macet.. Itu yg paling saya syukuri dari kondisi di Aceh, selain yang lainnya yang pastinya banyak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya alhamdulillah-nya Bunda Esti, soal jalanan memang Aceh juarak, makanya yang bikin Jatuh Cinta sama Kota Banda Aceh ya salah satunya minimnya kemacetan. Thanks ya Bun sudah mampir.

      Delete
  4. Replies
    1. Thanks Hayat, Hayat ikut lomba ini juga kah?

      Delete
  5. Kak Nia bertransformasi dari warga Pasundan ke warga Kota Banda Aceh. Satu hal yang pasti ditarik adalah dari Kota Banda Aceh adalah perubahan tata kota setelah Gempa dan Tsunami di tahun 2004 serta pembangunan yang sangat gencar. Tulisan di antar menjabarkan banyak hal dari wisata, tata kota hingga kuliner

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks Iqbal. Benar Bal, banyak yang bilang Banda Aceh berbenah banyak setelah tsunami.

      Delete