instagram

@soratemplates

Friday, April 19, 2019

Jangan Takut Berbagi, Kita Memberi Kita Memiliki






Makna Berbagi dan Pengalaman dari Penjara

“Kenapa Abah bawa orang gak kenal ke rumah?”, suatu saat Ibu saya pernah bertanya.
“Abah kasihan, ketemu orang itu di kereta katanya dia gak punya pekerjaan dan gak tau tujuan”, kira-kira begitu yang Abah bilang beberapa puluh tahun silam.

Bukan hanya membawa beberapa orang dan saudara yang kurang mampu untuk tinggal di rumah, Abah juga kerap kali memberi bantuan kepada banyak orang, menyayangi anak yatim, walaupun kami pun tidak memiliki harta berlebihan. Bahkan, jika buah-buahan yang Abah tanam di pekarangan telah ranum, Abah  selalu sibuk menyuruh kami untuk memberi buah-buahan tersebut kepada para tetangga. Saya kadang berfikir mungkin hal itu juga yang menjadikan buah-buah di pekarangan rumah hampir tiap tahun berbuah banyak. Lillahi ta’ala Abah berikan, maka berkah Allah yang akhirnya tiba.

Itulah pelajaran dari Abah yang saya ingat sampai sekarang, walaupun kini Abah telah tiada. Action orang tua adalah pelajaran yang anak ingat lama dalam hidupnya.

Semakin beranjak usia, saya kerap kali bertemu dengan orang-orang yang mengaku tersesat di jalan. Saya ingat sekali adalah seorang ibu yang berwajah sedih di angkutan umum. Ia bilang ia tersesat dan ingin pulang ke Jawa Tengah tapi tidak memiliki uang untuk ongkos pulang. Begitu pula dengan seorang Bapak yang saya temui di masjid dekat rumah Ibu saya, Ia ingin pulang ke Papua tapi tidak punya uang.

Kejadian-kejadian itu yang kadang di batin saya bergelut antara memberi atau tidak. Berbagi atau hanya untuk saya sendiri. Saya tengok uang di dompet tidaklah banyak, kebutuhan-kebutuhan ke depan pun tidak sedikit. Sesaat di batin ini bertanya, apakah orang yang di hadapan saya ini berkata jujur atau tidak? Lalu saya ingat sosok Abah saya dan jiwa sosialnya. Saya pun berfikir bumi Allah ini luas, jika saya ada pada posisi mereka bagaimana perasaan saya, mungkin dalam diri ada perasaan antara takut, penat dan bingung menghadapi situasi.

Memberi adalah ketetapan hati untuk memutuskan berbagi sebab pada dasarnya kita hidup di dunia ini tidak sendiri. Saya sering melihat langit yang begitu luas, bahwa Allah ini memiliki segalanya, memberi tidak akan mengubah kita menjadi miskin, burung saja Allah kasih rezeki.

Setelah berumah tangga dan tinggal di Aceh, ujian hidup tidak seindah kisah putri Cinderella. Saya harus bolak-balik ke Penjara untuk sebuah urusan yang berkaitan dengan hukum selama 3 tahun lebih. Saat itu saya sering menjumpai istri-istri narapidana yang mencurahkan hatinya karena setelah suami mereka di penjara ekonomi mereka menurun drastis, para istri narapida bingung menjalankan perannya sebagai ibu dan juga sekaligus sebagai pencari nafkah.

Saat itu saya berfikir, perempuan harus punya keahlian. Kita tidak pernah tahu, jalan nasib membawa kita ke arah mana.  Lalu apa yang saya bisa lakukan untuk para perempuan? 



Bantuan Langsung dan Tidak langsung

Ekonomi saya pun sulit saat suami saya harus mendekam di balik bui. Uang yang saya miliki pun tidak banyak, malah sering tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillahnya saat itu saya diberikan mesin jahit dan peralatan lainnya oleh lembaga bantuan yang ada di daerah saya. Saya melihat mesin jahit itu, lalu mengingat tentang apa yang saya fikirkan sebelumnya. Peran apa yang saya bisa berikan kepada para perempuan, agar ketika mereka mengalami kerasnya kehidupan, mereka punya keahlian yang bisa diandalkan.

Bantuan atau pemberian langsung tidak melulu harus uang, bisa berupa barang, makanan ataupun keahlian. Akhirnya saya mencoba membuat NEP (Niyaz Empowering People) yang berdasarkan inisiatif sendiri atas keinginan berbagi di bidang keilmuan yang ceritanya bisa juga dilihat DI SINI. NEP banyak melakukan pelatihan-pelatihan gratis untuk para perempuan di bidang jahit dan kerajinan tangan.
Program pemberian pelatihan jahit dan kerajinan tangan

Mengenai bantuan tidak langsung saya jadi ingat dengan salah satu lembaga penyalur bantuan yang bernama Dompet Dhuafa. Bagi saya pribadi, lembaga ini sangat dekat di hati masyarakat Parung Bogor, di mana ibu saya sedari dulu tinggal. Dompet Dhuafa mendirikan sekolah bagi anak-anak  dhuafa namun berprestasi, juga mendirikan sebuah rumah sakit untuk masyarakat yang tidak mampu.

Dompet Dhuafa ini yang bisa menjadi alternatif bagi orang-orang yang tidak bisa memberikan bantuan langsung kepada para penerima bantuan. Program penyaluran bantuan bagi para masyarakat begitu sangat terasa.

logo dompet dhuafa.org


Program Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa adalah salah satu lembaga organisasi non profit yang menyalurkan bantuan zakat, infak, sedekah, wakaf, dan donasi.

Cara penyaluran, penghitungan, sampai laporan ZISWAF (Zakat Infak Sedekah Wakaf) dan donasi begitu jelas untuk para donatur. Selain itu program-program Dompet Dhuafa semakin banyak ragam dan sasaran para penerima donatur. Awalnya program yang paling melekat di ingatan masyarakat dekat rumah ibu saya di Parung Bogor, adalah program pendidikan dan juga kesehatan. Namun saat ini program-program yang dibuat oleh Dompet Dhuafa begitu beragam dan tepat sasaran.

Secara garis besar Dompet Duafa memiliki program di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, pengembangan sosial, dan advokasi. Dari kelima program besar itu memiliki turunan program-program lain yang bertujuan untuk membantu dan memberdayakan masyarakat sesuai dengan penggambaran Dompet Dhuafa sebagai 'Non Profit Organization for Global Empowerment'.

Saat ini donatur juga diberikan kemudahan untuk menyerahkan donasi ke Dompet Dhuafa baik itu secara tunai maupun non tunai. Bantuan donasi tunai dapat disalurkan melalui  kantor, konter, dan gerai-gerai Dompet Dhuafa. Sedangkan untuk donatur yang memiliki banyak kesibukan bisa melalui teller bank, ATM, mesin EDC, auto debet, i-banking dan SMS banking. Cukup mudah bukan?  

Layanan ZISWAF  dan donasi dapat kita akses lebih mudah melalu website Dompet Dhuafa. Para donatur dapat mengaksesnya di https://www.dompetdhuafa.org/ .



Kita Memberi Sejatinya Kita Memiliki

Banyak orang berfikir bahwa sebelum memberi sesuatu untuk orang lain kita harus memiliki banyak harta dan banyak hal yang ingin kita sumbangkan. Padahal, bagi saya untuk memberi kita tidak harus berfikir panjang sebab sejatinya apa yang kita miliki bukanlah milik kita seutuhnya. Ada hak orang yang membutuhkan di sana. Harta, Ilmu dan apapun yang ada di diri kita adalah milik Allah seutuhnya.

Ketika kita benar-benar faham tentang konsep tersebut  dan setelah kita berbagi dengan ikhlas, maka apa yang kita bagi itu telah seutuhnya menjadi milik kita keberkahannya, kebermanfaatanya, dan kebersyukurannya. Yang kita beri adalah yang sejatinya kita miliki.

Saya juga percaya kepada lingkaran kebaikan. Sesuatu yang kita beri untuk orang lain, suatu saat kebaikannya akan kembali kepada kita dalam bentuk yang beragam. Tidak melulu harus materi dan uang, bisa juga kesehatan, keberkahan dan keharmonisan hidup, dijauhkan dari bencana dan lain sebagainya. Berniaga yang paling baik adalah berniaga dengan Allah. Allah tidak akan membuat ummatnya kecewa karena memberi, asal hati ummatnya dipenuhi keikhlasan.

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. ash-Shaff: 10-12).



Dalam kaitannya dengan pengalaman hidup yang penuh lika-liku ini, memberi dan berbagi banyak menuai hikmah, persahabatan, juga keberkahan yang nikmatnya terlalu banyak jika kita harus sebutkan satu persatu. Hal yang perlu kita lakukan adalah meyakinkan diri kita untuk #JanganTakutBerbagi .
***
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”
   


2 comments:

  1. Cerita teh Nia luar biasa, di saat ditimpa musibah karena suami masuk penjara, tapi teh Nia mampu bertahan dan memberikan manfaat buat orang lain dengan melatih para ibu2 menjahit. Luar biasa, salut deh.

    ReplyDelete