instagram

@soratemplates

Friday, April 26, 2019

Tutorial Membuat dan Menjahit Tempat Pembalut, Tempat Tisu, atau Dompet Serbaguna

8:53 AM 2 Comments
Dari zaman masih kuliah dulu, saya kerap kali disebut Doraemon. Salah satu alasan kenapa disebut seperti itu, karena isi tas saya penuh dengan barang. Saya termasuk yang memegang teguh prinsip "sedia payung sebelum hujan". Hal itu juga sering terjadi sampai sekarang. 



Nah, apalagi kalau sedang menstruasi ya. Saya sering membawa pembalut jika bepergian. Agar pembalut tak berantakan dan tak ketahuan orang, salah satu caranya adalah membuat dompet khusus untuk pembalut. Tutorial membuat tempat tisu atau pembalut akan saya bahas di sini ya.  
Dompet khusus untuk pembalut ini sebenarnya sangat simple, yang perlu kita pelajari dan fahami terlebih dahulu adalah cara menjahit lingkangan sederhana. Untuk penjahit pemula  dasar menjahit lingkaran sederhana bisa dilihat di postingan yang lalu ya...


Perlengkapan yang diperlukan untuk membuat tempat pembalut ini yaitu:
a. 1 lembar kain katun inner (bahan untuk dalaman) diameter 11 inch sudah termasuk kampuh.
b. 1 lembar kain katun outter (bahan untuk luaran) diameter 11 inch sudah termasuk kampuh.
c. 1 lembar kain kerah tipis yang ada lemnya untuk kemudian disetrika dengan kain katun outter.
d. kancing beberapa warna dan ukuran 
e. perlengkapan menjahit (mesin jahit, meteran, aneka benang dll) 


Setelah semua perlengkapan selesai ikuti cara menjahitnya di Youtube saya ya. Bisa dilihat logo youtube di samping kanan blog iniini. Jangan lupa untuk subscribe, like and share.




Sebenarnya tempat  pembalut ini  bisa difungsikan untuk dialihfungsikan menjadi dompet serbaguna. Dompet serbaguna ini bisa untuk menaruh perlengkapan kecil lainnya. Selamat mencoba yaa...

Wednesday, April 24, 2019

Saya Banda Aceh Dahulu Pasundan, Fakta Betahnya Pendatang

2:29 PM 12 Comments

Terkesima  Pandangan Pertama

Menjelang siang, di suatu hari di penghunjung 2011. Saya sibuk memberi kabar ke orang tua bahwa saya telah sampai di Aceh. Sambil menunggu calon suami saya datang menjemput, saya perhatikan sekeliling Bandara  Sultan Iskandar Muda (SIM), mencoba membaca raut wajah orang-orang di sekeliling bandara termasuk para supir yang menawarkan saya taxi tanpa merek. Mereka menawari dengan santun, tanpa paksaan. Di keliling saya orang lalu-lalang menggunakan Bahasa Aceh yang sayangnya saya hanya bisa mengira-ngira.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, calon suami saya pun tiba. Di tahun tersebut saya datang dengan niatan menjumpai calon mertua saya.  Setelah meninggalkan bandara dan  masuk ke wilayah Kota Banda Aceh, yang pertama  saya perhatikan sekeliling adalah jalan dan langit. Sepanjang jalan saya lihat Kota Banda Aceh begitu bersih dan tidak banyak terjadi kemacetan seperti beberapa kota besar lainnya. Langit pun terlihat bersih dari polusi yang mengganggu, seakan saya ingin menghirup udara di kota ini dengan penuh khidmat.

Saya saat itu terkesima akan penataan kota dengan tampilan yang menawan, padahal 26 Desember 2004  telah terjadi bencana tsunami yang banyak merenggut korban jiwa di kota ini. Namun Kota Banda Aceh menunjukkan keseriusannya terhadap recovery, tak terkecuali di bidang lingkungan. Terbukti pada bulan November 2011, Kota Banda Aceh masuk ke dalam 60 kabupaten/kota di Indonesia yang ditetapkan sebagai daerah yang masuk dalam Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH). Acara tersebut  termasuk dalam rangkaian peringatan puncak Hari Tata Ruang 2011.

Pariwisata di Kota Sejuta Cerita

Ulee Lheu, dokumentasi pribadi

Hampir 8 tahun saya mendiami kota ini, bukan lagi sebagai gadis Pasundan di mana Bogor menjadi kota kelahiran. Kini saya telah berumah tangga dan mengais rezeki di kota ini, seorang gadis pasundan pun akhirnya telah resmi memiliki KTP Aceh, setelah resmi dipinang seorang lelaki Aceh 2012 silam.

Selama hampir 8 tahun tersebut saya pun sesekali menjelajahi pariwisata  di kota ini. Bidang pariwisata memiliki daya tarik  tersendiri, apalagi untuk para pendatang. Kota Banda Aceh memiliki pariwisata lengkap yang dibalut dengan sejarah masa lampau, religi,  dan juga pesona alam.

Pantai Ulee Lheue contohnya, pantai ini adalah daerah pariwisata  yang sekaligus  menjadi tempat bersejarah di mana rumah-rumah penduduk dan sarana ibadah  terkena imbas dari terjangan tsunami. Bahkan sampai sekarang kita masih bisa melihat bukti sejarah belasan tahun silam di sekeliling tempat ini.

Selain pariwisata alam, Kota Banda Aceh menawarkan pariwisata religi. Pariwisata yang sekaligus mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT. Beberapa di antaranya adalah Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Baiturrahim, dan PLTD Apung. Masjid Raya Baiturrahman sejak  dulu berdiri kokoh di tengah pusat Kota Banda Aceh. Bagi para pelancong  belum lengkap rasanya jika datang ke Banda Aceh tapi tidak singgah di masjid ini. Masjid ini kini berdiri megah dan indah, walaupun dahulu terkena dampak tsunami. Masjid ini sering disebut mirip dengan Masjid Nabawi di Madinah karena kini sudah dipercantik dengan payung elektrik yang telah diresmikan pada 13 Mei 2017 oleh wakil Presiden Republik Indonesia, H. Yusuf Kalla.

Selain Masjid Raya Baiturrahman, ada beberapa masjid yang walaupun telah diterjang tsunami masih kokoh sampai sekarang. Salah satunya adalah Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, yang memiliki sejarah di masa lampau. Masjid ini merupakan masjid peningalan Sultan Aceh pada Abad ke-17. Tak jauh dari Masjid ini ada  PLTD Apung, yang merupakan kapal besar generator listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN). Besar kapal ini tak tanggung-tanggung, luas kapal ini mencapai 1900 meter persegi dengan panjang kurang lebih 63 meter.  Kapal PLTD Apung ini terdampar di perumahan warga saat terjadi tsunami 2004 silam. Melihat dan menaiki kapal ini membuat kita merinding membayangkan gelombang tsunami yang kuat dan juga Keagungan Allah SWT, bagi-Nya tidak ada yang tidak mungkin.

Ruang Terbuka Hijau Kota Banda Aceh

Hutan Kota Banda Aceh, dokumentasi pribadi

Kota Banda Aceh memperkuat komitmennya di bidang lingkungan salah satunya dengan mendirikan beberapa Ruang Terbuka Hijau (RTH). Ruang Terbuka Hijau menurut Purnomohadi (2002) memiliki beberapa fungsi di antaranya: menetralisir limbah buangan penduduk, menghasilkan oksigen, menyimpan air tanah, mentransfer air tanah sehingga dapat mempengaruhi penurunan suhu lingkungan, meredam kebisingan, dan juga mengurangi kekuatan angin.

Ruang Terbuka Hijau di Banda Aceh yang sekaligus dijadikan tempat pariwisata adalah Hutan Kota Tibang. Hutan Kota Tibang disebut juga Hutan Kota BNI, dikarenakan hutan kota ini dibangun berkat adanya kerjasama Pemerintah Kota Banda Aceh dengan BNI sebagai pengembangan dari program CSR BNI di bidang BNI Go Green.

Hutan Kota Tibang membuat  masyarakat Banda Aceh, juga para pendatang betah untuk berlama-lama di tempat ini. Bukan hanya dikarenakan sejuknya tempat ini semata, tapi sekaligus juga sebagai arena cantik untuk berswafoto. Di sini juga terdapat arena bermain anak. Saya pun kerap kali menjelajahi hutan kota ini, selain untuk rekreasi keluarga, hutan kota ini juga kerap saya jadikan tempat untuk mengenalkan jenis-jenis pepohonan kepada anak-anak saya. Terutama pepohonan yang jarang ada di Bogor, di kota kelahiran saya.

Kota Banda Aceh juga meraih beberapa kali  penghargaan Adipura. Penghargaan Adipura diberikan kepada Kota Banda Aceh sebagai bentuk pengakuan pemerintah pusat atas keberhasilan Kota Banda Aceh mengelola kebersihan lingkungan.  

Keramahan Warga, Budaya Lokal, dan Lezatnya Kuliner Khas Banda Aceh dalam  Kenduri

Ayam Tangkap, via anakjajan.com

Selama tinggal di Banda Aceh, awalnya saya sempat kaget. Di kota ini, hampir setiap  beberapa minggu sekali  saya diundang untuk menghadiri kenduri. Kenduri dalam mayarakat Aceh mencakup beberapa hal di antaranya: sunatan anak, pesta pernikahan, turun tanah atau aqiqah, penempatan rumah baru, Maulid Nabi dan lain sebagainya.

Bagi masyarakat  Banda Aceh, budaya kenduri menjadi hal yang biasa dijadikan sebagai ajang silaturahmi. Bagi para pendatang tidak hanya sekedar itu, kenduri dapat dijadikan sebagai sarana mempelajari keramahan warga, budaya lokal, serta mengenal kekhasan kuliner kota ini. Seperti yang saya rasakan.

Keramahan warga kota terpancar pada senyum dan canda yang dilontarkan saat perjumpaan. Begitu pula saat kenduri. Orang-orang yang lalu-lalang pada saat kenduri  bukan hanya saling berkumpul, tetapi juga mengedepankan  budaya tolong-menolong agar kenduri berjalan dengan lancar. Bukan juga hanya berkumpul saat penuh suka seperti layaknya pesta pernikahan, akan tetapi pada acara penuh duka seperti kematian dan tahlillan juga dilakukan. Warga Banda Aceh saling tolong menolong membantu sesama. Saya pernah bertanya mengenai ringannya mereka menolong sesama, ternyata hal ini telah menjadi kebiasaan turun temurun nenek moyang terdahulu.

Jika ada kenduri artinya ada makan-makan. Di sini kita bisa merasakan berbagai kuliner khas Kota Banda Aceh.   Kuliner tersebut contohnya adalah Ayam Tangkap, Kuah Beulangong, Timphan, Kue Bhoi dan lain sebagainya.

Ayam Tangkap adalah ayam  goreng yang sebelumnya telah melalui proses perendaman dengan i u (air kelapa) dan juga berbagai bumbu khas pilihan. Digoreng dengan daun temurui, daun salam koja dan juga daun pandan sehingga wangi Ayam Tangkap begitu khas sekali. Selain Ayam Tangkap, Kuah Beulangong pun menjadi menu yang dapat kita jumpai pada saat kenduri di Kota Banda Aceh.

Kuah Beulangong adalah masakan sejenis gulai yang umumnya bahan utamanya dari daging sapi atau kambing. Uniknya Kuah Beulangong ini dimasak dengan menambahkan nangka, pisang kepok, kelapa gongseng dan bumbu rempah lainnya. Disebut Kuah Beulangong dikarenakan masakan ini dimasak dalam belanga (wajan) yang besar. Pembuatan Kuah Beulangong ini umumnya dilakukan oleh para pria dengan bergotong royong.

Menghargai Keberagaman

Aceh yang dipercayai juga memiliki singkatan dari  Arab, China,  Eropa dan Hindia. Memberi keragaman dalam banyak hal. Kota Banda Aceh pun mendapatkan imbas dari hal tersebut, tempat-tempat bersejarah masuknya keberagaman budaya dapat dilihat dari beberapa tempat di Banda Aceh.
Peunayong, adalah salah satu pemukiman  etnis Tionghoa yang telah ada semenjak masa kepemimpinan Sultan Iskandar  Muda. Sejarah menyebutkan, hubungan Aceh dan China telah ada pada abad ke-17 Masehi. Peunayong berasal dari kata “Peu Payong yang berarti memayungi atau melindungi. Sejarah mengisahkan, dahulu kawasan Peunayong adalah tempat di mana Sultan menjamu para tamu yang berasal dari China.

Keberagaman pun bisa kita lihat dalam tempat-tempat beribadah. Di kawasan Peunayong ini terdapat Vihara Dharma Bhakti. Selain itu ada Vihara lain yang ada di Kota Banda Aceh yaitu Vihara Buddha Sakyamuni, Maitri, dan Dewi Samudera. Selain itu juga terdapat Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat dan juga Gereja Methodist.

Walaupun Aceh menerapkan syariat islam, bukan berarti masyarakat yang berbeda agama tidak bisa hidup berdampingan. Di antara bangunan agama tersebut di Jalan Panglima Polem juga berdiri megah sebuah masjid. Sejarah dan pengakuan para pemuka agama setempat juga membuktikan bahwa keberagaman dalam memeluk agama masing-masing tidak membuat masyarakat “bergesekan” dikarenakan beda keyakinan. Warga Kota Banda Aceh memaknai betul arti  dalam sebuah ayat Al-Qur’an, QS. Al-Kafirun : 6 “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”.

Saya Banda Aceh, Dahulu Pasundan

Pemaparan di atas dan waktu mengungkap fakta cukup membuktikan saya yang setelah hampir 8 tahun lebih tinggal di Kota Banda Aceh ini, memiliki banyak alasan untuk merasa betah tinggal di kota ini. Kota yang menawarkan sejuta cerita yang dapat saya bagikan kepada para khalayak ramai terlebih para pendatang. Saya pun mantap berujar : Saya Banda Aceh.

“Tunggu apalagi? Yok, kita ke Banda Aceh!”


Friday, April 19, 2019

Jangan Takut Berbagi, Kita Memberi Kita Memiliki

10:38 PM 2 Comments





Makna Berbagi dan Pengalaman dari Penjara

“Kenapa Abah bawa orang gak kenal ke rumah?”, suatu saat Ibu saya pernah bertanya.
“Abah kasihan, ketemu orang itu di kereta katanya dia gak punya pekerjaan dan gak tau tujuan”, kira-kira begitu yang Abah bilang beberapa puluh tahun silam.

Bukan hanya membawa beberapa orang dan saudara yang kurang mampu untuk tinggal di rumah, Abah juga kerap kali memberi bantuan kepada banyak orang, menyayangi anak yatim, walaupun kami pun tidak memiliki harta berlebihan. Bahkan, jika buah-buahan yang Abah tanam di pekarangan telah ranum, Abah  selalu sibuk menyuruh kami untuk memberi buah-buahan tersebut kepada para tetangga. Saya kadang berfikir mungkin hal itu juga yang menjadikan buah-buah di pekarangan rumah hampir tiap tahun berbuah banyak. Lillahi ta’ala Abah berikan, maka berkah Allah yang akhirnya tiba.

Itulah pelajaran dari Abah yang saya ingat sampai sekarang, walaupun kini Abah telah tiada. Action orang tua adalah pelajaran yang anak ingat lama dalam hidupnya.

Semakin beranjak usia, saya kerap kali bertemu dengan orang-orang yang mengaku tersesat di jalan. Saya ingat sekali adalah seorang ibu yang berwajah sedih di angkutan umum. Ia bilang ia tersesat dan ingin pulang ke Jawa Tengah tapi tidak memiliki uang untuk ongkos pulang. Begitu pula dengan seorang Bapak yang saya temui di masjid dekat rumah Ibu saya, Ia ingin pulang ke Papua tapi tidak punya uang.

Kejadian-kejadian itu yang kadang di batin saya bergelut antara memberi atau tidak. Berbagi atau hanya untuk saya sendiri. Saya tengok uang di dompet tidaklah banyak, kebutuhan-kebutuhan ke depan pun tidak sedikit. Sesaat di batin ini bertanya, apakah orang yang di hadapan saya ini berkata jujur atau tidak? Lalu saya ingat sosok Abah saya dan jiwa sosialnya. Saya pun berfikir bumi Allah ini luas, jika saya ada pada posisi mereka bagaimana perasaan saya, mungkin dalam diri ada perasaan antara takut, penat dan bingung menghadapi situasi.

Memberi adalah ketetapan hati untuk memutuskan berbagi sebab pada dasarnya kita hidup di dunia ini tidak sendiri. Saya sering melihat langit yang begitu luas, bahwa Allah ini memiliki segalanya, memberi tidak akan mengubah kita menjadi miskin, burung saja Allah kasih rezeki.

Setelah berumah tangga dan tinggal di Aceh, ujian hidup tidak seindah kisah putri Cinderella. Saya harus bolak-balik ke Penjara untuk sebuah urusan yang berkaitan dengan hukum selama 3 tahun lebih. Saat itu saya sering menjumpai istri-istri narapidana yang mencurahkan hatinya karena setelah suami mereka di penjara ekonomi mereka menurun drastis, para istri narapida bingung menjalankan perannya sebagai ibu dan juga sekaligus sebagai pencari nafkah.

Saat itu saya berfikir, perempuan harus punya keahlian. Kita tidak pernah tahu, jalan nasib membawa kita ke arah mana.  Lalu apa yang saya bisa lakukan untuk para perempuan? 



Bantuan Langsung dan Tidak langsung

Ekonomi saya pun sulit saat suami saya harus mendekam di balik bui. Uang yang saya miliki pun tidak banyak, malah sering tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillahnya saat itu saya diberikan mesin jahit dan peralatan lainnya oleh lembaga bantuan yang ada di daerah saya. Saya melihat mesin jahit itu, lalu mengingat tentang apa yang saya fikirkan sebelumnya. Peran apa yang saya bisa berikan kepada para perempuan, agar ketika mereka mengalami kerasnya kehidupan, mereka punya keahlian yang bisa diandalkan.

Bantuan atau pemberian langsung tidak melulu harus uang, bisa berupa barang, makanan ataupun keahlian. Akhirnya saya mencoba membuat NEP (Niyaz Empowering People) yang berdasarkan inisiatif sendiri atas keinginan berbagi di bidang keilmuan yang ceritanya bisa juga dilihat di pstingan-postingan saya sebelumnya. NEP banyak melakukan pelatihan-pelatihan gratis untuk para perempuan di bidang jahit dan kerajinan tangan.
Program pemberian pelatihan jahit dan kerajinan tangan

Mengenai bantuan tidak langsung saya jadi ingat dengan salah satu lembaga penyalur bantuan yang bernama Dompet Dhuafa. Bagi saya pribadi, lembaga ini sangat dekat di hati masyarakat Parung Bogor, di mana ibu saya sedari dulu tinggal. Dompet Dhuafa mendirikan sekolah bagi anak-anak  dhuafa namun berprestasi, juga mendirikan sebuah rumah sakit untuk masyarakat yang tidak mampu.

Dompet Dhuafa ini yang bisa menjadi alternatif bagi orang-orang yang tidak bisa memberikan bantuan langsung kepada para penerima bantuan. Program penyaluran bantuan bagi para masyarakat begitu sangat terasa.

logo dompet dhuafa.org


Program Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa adalah salah satu lembaga organisasi non profit yang menyalurkan bantuan zakat, infak, sedekah, wakaf, dan donasi.

Cara penyaluran, penghitungan, sampai laporan ZISWAF (Zakat Infak Sedekah Wakaf) dan donasi begitu jelas untuk para donatur. Selain itu program-program Dompet Dhuafa semakin banyak ragam dan sasaran para penerima donatur. Awalnya program yang paling melekat di ingatan masyarakat dekat rumah ibu saya di Parung Bogor, adalah program pendidikan dan juga kesehatan. Namun saat ini program-program yang dibuat oleh Dompet Dhuafa begitu beragam dan tepat sasaran.

Secara garis besar Dompet Duafa memiliki program di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, pengembangan sosial, dan advokasi. Dari kelima program besar itu memiliki turunan program-program lain yang bertujuan untuk membantu dan memberdayakan masyarakat sesuai dengan penggambaran Dompet Dhuafa sebagai 'Non Profit Organization for Global Empowerment'.

Saat ini donatur juga diberikan kemudahan untuk menyerahkan donasi ke Dompet Dhuafa baik itu secara tunai maupun non tunai. Bantuan donasi tunai dapat disalurkan melalui  kantor, konter, dan gerai-gerai Dompet Dhuafa. Sedangkan untuk donatur yang memiliki banyak kesibukan bisa melalui teller bank, ATM, mesin EDC, auto debet, i-banking dan SMS banking. Cukup mudah bukan?  

Layanan ZISWAF  dan donasi dapat kita akses lebih mudah melalu website Dompet Dhuafa.



Kita Memberi Sejatinya Kita Memiliki

Banyak orang berfikir bahwa sebelum memberi sesuatu untuk orang lain kita harus memiliki banyak harta dan banyak hal yang ingin kita sumbangkan. Padahal, bagi saya untuk memberi kita tidak harus berfikir panjang sebab sejatinya apa yang kita miliki bukanlah milik kita seutuhnya. Ada hak orang yang membutuhkan di sana. Harta, Ilmu dan apapun yang ada di diri kita adalah milik Allah seutuhnya.

Ketika kita benar-benar faham tentang konsep tersebut  dan setelah kita berbagi dengan ikhlas, maka apa yang kita bagi itu telah seutuhnya menjadi milik kita keberkahannya, kebermanfaatanya, dan kebersyukurannya. Yang kita beri adalah yang sejatinya kita miliki.

Saya juga percaya kepada lingkaran kebaikan. Sesuatu yang kita beri untuk orang lain, suatu saat kebaikannya akan kembali kepada kita dalam bentuk yang beragam. Tidak melulu harus materi dan uang, bisa juga kesehatan, keberkahan dan keharmonisan hidup, dijauhkan dari bencana dan lain sebagainya. Berniaga yang paling baik adalah berniaga dengan Allah. Allah tidak akan membuat ummatnya kecewa karena memberi, asal hati ummatnya dipenuhi keikhlasan.

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. ash-Shaff: 10-12).



Dalam kaitannya dengan pengalaman hidup yang penuh lika-liku ini, memberi dan berbagi banyak menuai hikmah, persahabatan, juga keberkahan yang nikmatnya terlalu banyak jika kita harus sebutkan satu persatu. Hal yang perlu kita lakukan adalah meyakinkan diri kita untuk #JanganTakutBerbagi .
***
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”