instagram

@soratemplates

Saturday, August 25, 2018

Cilok Hari Raya (Cilok Semur)

7:08 AM 0 Comments
Salah satu obat bagi perantau di hari raya adalah makanan. Ada yang setuju gak? hehe Jika punya sisa-sisa daging semur atau rendang, yuk kita manfaatkan. Seperti yang saya lakukan. Kebetulan setelah Idul Adha ini ada beberapa yang ngasih daging kurban. Jadi saya coba  manfaatkan.

Sebenernya lagi mati gaya urusan memasak, gara-gara beberapa toko sayur di sini tutup. Lupa nyetok pula. Jadi masak apa yang ada, kebetulan menu hari ini adalah semur. tapi kurang perkiraan, padahal yang makan cuma 1 orang dewasa dan 2 orang anak-anak, alhasil kebanyakan. 

Hari ini pun lagi pengen banget makan cilok. Ada stok sagu dan terigu di rumah, jadi saya manfaatin deh
Cilok itu kekenyalan dan komposisi tepung terigu dan tepung sagu (kanji) itu bagi saya jadi hal penting banget.
Kalau saya pribadi resep online cilok yang pas di lidah saya, itu punya mba Endang Just Try and Taste, tapi saya sering modifikasi sedikit. Untuk resep asli cilok mba Endang bisa KLIK DI SINI.
Nah kembali ke urusan dapur dan perut saya hihi, ini resep cilok semur yang saya buat tadi.

Bahan utama cilok:
1. Kurang lebih 200gr daging sapi yang sudah di rebus (kalau mau ganti kaldu sapi juga silahkan ya).
2. Air 250 ml
3. Tepung terigu 125 gr
4. Tepung sagu (kanji) 200gr
5. Lada secukupnya
6. 3 sdt garam
7. 5 siung bawang putih
note : di resep asli mba Endang menggunakan telur tapi karena kebetulan gak ada telur saya tidak memakainya.

Bahan isian: 
1. Kurang lebih 5-7 potong daging semur, ambil dagingnya saja, potong kecil-kecil.
2. 3 siung bawang merah dan 2 siung putih. iris-iris tipis.
3. Irisan cabai rawit jika suka
4. 1 sdm minyak untuk menumis


Cara memasak :
1. Untuk membuat isian cilok, irisan bawang merah dan bawang putih tersebut tumis dengan minyak. 2. Setelah harum dan layu masukkan  potongan kecil daging semur tadi.
3. Jika suka pedas tambahkan irisan cabai rawit.
4. Beri sedikit tambahan garam.
5. Angkat dan diamkan sebentar.

6. Iris tipis-tipis daging sapi yang telah di rebus lalu blender bersama garam, lada, bawang putih, dan sedikit air. Apabila punya penggiling daging bisa juga menggunakan penggiling daging.
7. Masukan ke dalam air. masak hingga mendidih.
8. Masukkan tepung terigu pelan-pelan sambil di aduk dengan api yang kecil. Setelah mulai mengental dan mulai berat untuk di aduk. Matikan api. Diamkan sebentar.
9. Ketika adonan hangat-hangat kuku, masukkan daun bawang dan telur (jika mau menggunakan telur), kali ini saya skip ya telurnya.
10. Masukkan tepung sagu / kanji sedikit demi sedikit lalu uleni hingga kalis dan mudah dibentuk.
11. Ambil sedikit adonan cilok. pipihkan, masukkan isian cilok, tutup kembali lalu bulatkan dengan cara menggeleng-gelengkannya di antara kedua telapak tangan.
12. Siapkan air mendidih. Rebus cilok tersebut, setelah cilok mengambang, tunggu beberapa saat. tips: apinya api sedang ya, kalau terlalu besar jadi mudah isiannya terburai.
13. Angkat, bisa langsung dihidangkan atau dikukus dulu lalu dibubuhi sambal kacang atau saos dan kecap seperti yang saya lakukan.

Membuat cilok ini lumayan singkat waktunya, dan kebetulan anak saya suka sekali. Alhamdulillah.
Kalau tidak ada semur, isian bisa diganti tahu yang dikecapi, telur, keju atau kalau ada rendang pakai saja rendang, jadi ciloknya banyak varian hihi. namanya juga hari raya, ya kan?

semangat mencoba 💓

Friday, August 17, 2018

Gunting Memperbaiki Gunting, Begini Cara Memperbaiki Gunting yang Jatuh.

2:33 AM 0 Comments
Beberapa bulan lalu di salah satu grup whatsapp suplier bahan tempat di mana saya  biasa membeli bahan sedang seru membahas tentang gunting dari yang mahal sampai murah. Maklum saja rata-rata di grup tersebut berprofesi sebagai penjahit.
Gunting yang kami obrolkan memiliki harga dari mulai beberapa puluh ribu sampai yang harganya sampai hampir 1 jutaan yang menjadi salah satu wishlist beberapa penjahit. Saat itu, ada yang berseloroh "Gunting murah atau mahal kalau sudah jatuh sama saja".
Kenapa bisa sama saja? Gunting yang terjatuh dapat berpengaruh terhadap penurunun kualitas hasil guntingan,  salah satunya menjadi tumpul.

Gambar di atas adalah gunting kain saya yang berwarna hitam. Gunting tersebut merupakan gunting gratisan yang diberikan kepada saya oleh salah satu intansi di Aceh bersamaan dengan sebuah mesin jahit portable. Sayangnya saya lupa apa merek gunting kain tersebut, karena kardus gunting tersebut menghilang. Yang tersisa hanyalah ukiran huruf mandarin pada gunting tersebut, yang kebetulan saya tidak tahu apa namanya, artinya, dan bagaimana cara membacanya hihi.
Gunting tersebut sejauh ini merupakan gunting kesayangan saya. Gagangnya yang berat dan ketajaman mata pisaunya sangat diandalkan, memudahkan saya memotong kain. Gagah dan ajeg di genggaman. Ujung gunting yang runcing memudahkan saya untuk menngunting beberapa sudut dan ujung gunting tersebut dapat menggunting lingkaran dengan mudah.

Sayangnya, karena kondisi tempat saya tinggal dekat dengan laut, sehingga sepertinya itu yang menjadi alasan gunting ini pada akhirnya cepat berkarat.

Hari ini, anak saya yang kedua, Qaysarah sedang mengalami tantrum. Penyebabnya karena mungkin habis terjatuh, jadi bawaannya marah-marah karena lututnya sakit. Qaysarah sengaja membanting gunting kesayangan saya. Seperti dugaan saya ketika mengambilnya, saya mencoba menggunting kain dan gunting tersebut langsung tumpul.
Saya cek di bagian engselnya ternyata engselnya kendur.

Inilah penyebab utama gunting yang terjatuh menjadi tumpul. Engsel kendur.
Saya coba untuk memperbaiki engsel yang menonjol keluar dan nampak longgar itu. Sayangnya tidak ada tang. Saya mempunyai ide memutar engsel dengan gunting lainnya. Engsel pun terasa lebih ketat. Alhamdulillah akhirnya gunting kesayangan saya tajam lagi.

Ada beberapa cara juga memperbaiki gunting yang tumpul bukan karena terjatuh, melainkan tumpul karena waktu dan  juga akibat terlalu sering dipakai. Caranya adalah dengan menggesekkan bagian runcing gunting tersebut ke leher botol yang seakan-akan kita hendak menggunting leher botol tersebut. Selain itu bisa dengan cara mengasahnya menggunakan pisau pengasah.

Selamat mencoba ya..
Semoga berhasil,
Do'aku menyertaimu hihi


Sunday, August 12, 2018

Berkenalan dengan ISBI Aceh, antara Kudet dan Ide Baru di Kepala

8:53 PM 0 Comments
Ternyata ada Instititut Seni di Aceh, dan saya akui saya kudet, kurang update. hihi.

12 Agustus 2018, tepat di hari minggu saya mendatangi pelatihan, (kalau saya cenderung berfikir  itu adalah acara seminar) jurnalistik dengan narasumber Bapak Yarmen Dinamika  di gedung Dinas Perpustakaan dan  Kearsipan  Provinsi Aceh, sebagai salah satu rangkaian acara menyambut Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang merupakan kegiatan kerjasama antara FAME (Forum Aceh Menulis) dan juga Dinas Kepustakaan dan Kearsipan Aceh. 

Acara tersebut bagi saya pribadi adalah acara yang membuat semangat kembali untuk menulis dan melahirkan karya-karya di bidang literasi yang di hidup saya pernah mati suri.

Setelah seleai acara, saya menjumpai beberapa mahasiswa dan dosen ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Aceh, yang sedang melaksanakan demo pewarnaan cat arklikir pada media kertas yang menghasilkan karya  seperti lukisan abstrak namun warna-warna  yang dihasilkan cukup indah.



Lalu saya mencoba berkenalan dengan  cara membaca Brosur yang diberikan Bapak Dedi Selaku Dosen di ISBI Aceh. Beliau menjelaskan bahwa ISBI Aceh ini merupakan institut seni dengan status Perguruan Tinggi Negeri  yang mengkhususkan diri di seni dan  satu-satunya di Aceh. Kagetlah saya, dan saya berfikirir saya sepertinya kudet.

Saya juga mencoba untuk membrowsing tentang ISBI Aceh ini, ISBI Aceh ini diresmikan 6 Oktober 2014  di Surabaya oleh Presiden Republik Indonesia DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono. ISBI Aceh berlokasi di Jantho, Aceh Besar yang merupakan satu-satunya Institut seni negeri yang ada di Sumatera. Harusnya ini menjadi modal Aceh untuk lebih mendorong anak-anak muda yang ingin mendalami seni lebih dalam. 

Kabarnya, ISBI Aceh ini sedang membuat Jalur Mandiri Khusus 2018 tanpa batasan usia. Untuk lebih jelas mengenai penjurusan dan jadwal pendaftaran beserta tata cara pendaftaran bisa dilihat dengan mengklik website ini.

Kembali lagi mengenai senangnya saya belajar mencampur adukkan warna-warna dengan tekhnik pencampuran yang sederhana, memunculkan dua ide baru di kepala. 

1. tekhnik pencampuran warna seperti gambar di atas bisa dilakukan untuk anak-anak sampai dewasa, dan saya berniat untuk mengajarkannya kepada kedua anak saya,  Ghaissan dan Qaysarah di rumah, mungkin yang akan saya lakukan melalui beberapa langkah pengerjaan dari mulai pewarnaan sederhana sampai tingkat aplikasi pada kerajinan craft sederhana yang bisa dilakukan anak dan orang tua. InsyaAlloh, tungguin ya hihi.
2. saya berencana untuk melakukan kerjasama antara CINEUBA (Craft Ija Beneung Banda Aceh) dan ISBI Aceh untuk mengadakan pelatihan pewarnaan sederhana di kain untuk dijadikan dasar pembuatan craft lain semisal, tas, dompet dan lainnya.  CINEUBA merupakan satu komunitas yang saya ikuti yang merupakan perkumpulan para wanita Aceh yang hobi membuat berbagai craft dari Ija (kain) dan Beneung (benang). ISBI Aceh terlihat antusias menyambutnya, pun saya demikian. semoga seni pewarnaan ini menjadi cikal bakal untuk  mengenalkan pendidikan dan pelatihan seni untuk  pemberdayaan perempuan di Aceh ini. 

InsyaAlloh semoga Alloh mudahkan.

Banda Aceh 

13 Agustus 2018