instagram

@soratemplates

Sunday, October 20, 2019

Seni Ukir dalam Sejarah dan Budaya Aceh

8:38 AM 1 Comments

Awal Januari 2012, datanglah serombongan keluarga mempelai pria nun jauh dari ujung barat Sumatera berniat meminang gadis Sunda. Mereka adalah  rombongan calon suami saya yang terdiri dari  sanak saudara baik yang dari Aceh atau pun yang dari Jabodetabek. Tak lupa mereka membawa seserahan dan sirih yang bentuknya sedemikian rupa. Sang penata rias saya berdecak kagum dan heran melihat kekhasan seserahan Aceh yang umumnya  memiliki pola-pola khas Aceh dalam kain-kainan, perhiasan, bahkan juga aneka kue yang terukir dengan cantiknya.

Ya, seni ukir Aceh diakui keindahannya sejak dahulu kala. Selain budaya tutur yang kental di Aceh, budaya seni  ukir Aceh begitu khas dan terkenal di kancah nasional dan internasional.

Umumnya ukiran aceh memiliki ciri khusus pada motif-motif yang dihasilkan. Motif tersebut umumnya identik dengan keislaman, motif bungong (bunga), dan motif-motif flora. Namun jarang ditemui motif fauna.  Berbagai ukiran dapat kita temui pada barang, benda, atau makanan yang ada di Aceh. Kesemuanya memiliki nilai historis dan juga pemaknaan khusus dari zaman dahulu hingga kini.

Tempat Sirih

Sejak dahulu, Aceh dikenal dengan orang-orang yang gemar mengunyah sirih. Sampai sekarang di beberapa daerah masih ada beberapa orang yang juga melakukan kebiasaan tersebut. Selain dinikmati sendiri, sirih juga disajikan kepada tamu-tamu sebagai pertanda memuliakan tamu  atau yang dikenal dengan istilah ‘peumulia jamee’.   
Foto dari cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Wadah sebagai atribut khusus memakan sirih yang terbuat dari emas dan perak zaman dahulu, disebut dengan batee ranup dan batee karah. Batee ranub terbuat dari tembaga, tetapi batee karah dahulu sering dibuat dari emas.

Zaman kerajaan, batee ranup dan batee karah diukir dengan ukiran yang halus. Pengerjaannya cukup suit dan membutuhkan waktu yang lama. Dikerjakan hanya dengan alat-alat sederhana oleh  pengrajin ukiran yang sudah senior. 

Menurut Harian Analisa 20 Juli 1978, harga satu karah berkisar antara Rp. 200 ribu – Rp.300 ribu. Harga yang cukup lumayan mahal saat itu dikarenakan butuh ketelitian, kesabaran, dan juga kemahiran dalam mengukir wadah sirih tersebut.

Perhiasan dan Motif Pinto Aceh yang Melegenda
Aceh awalnya merupakan daerah kerajaan. Semenjak itu pula, perhiasan-perhiasan yang dipakai oleh orang-orang kerajaan menjadi pusat perhatian. Dahulu, berbagai perhiasan itu dipakai di kepala, telinga, leher, dada , jari tangan,pinggang dan kaki.

Perhiasan-perhiasan tersebut memiliki ukiran-ukiran yang unik dan khas, mulai dari dedaunan, bunga-bunga hutan sampai motif Pinto Aceh yang melegenda. Motif Pinto Aceh sendiri ditemukan sekitar tahun 1939. Namun ada juga yang sumber yang menyebutkan motif   Pinto Aceh ditemukan pada tahun 1935. Utoh (pengrajin perhiasan) yang menemukan ukiran motif Pinto Aceh adalah Utoh Mahmud Ibrrahim atau yang biasa dikenal Utoh Mud. Ukiran perhiasan dengan motif Pinto Aceh ini terinspirasi dari pengamatan Utoh Mod pada pinto khop yang merupakan peninggalan sejarah kerajaan Aceh. Pintu khop tersebut adalah pintu bagian belakang istana kerajaan Aceh di mana tempat keluar-masuk permaisuri dan dayang-dayang kerajaan  menuju jalan Bustanussalatin. Kini, motif ukiran Pinto Aceh tidak hanya dijumpai pada perhiasan saja, tetapi dapat dijumpai juga pada ukiran kayu atau ornamen-ornamen interior bangunan.
 
Pinto Aceh pernah juga dinobatkan sebagai warisan budaya Indonesia tak benda yang berasal dari Aceh pada tahun 2015. Motif ini pun sangat terkenal di tanah air dan mancanegara.

Perhiasan-perhiasan yang penuh ukiran dapat terbuat dari emas, tembaga  ataupun suasa. Ukiran dengan motif khas Aceh pada saat ini masih bisa kita temukan di toko-toko emas, toko perhiasan, ataupun toko-toko souvenir. Dapat digunakan pada acara santai, resmi, ataupun pesta pernikahan.

Senjata Tradisional

Rencong atau rincong adalah senjata asli Aceh yang telah ada sejak zaman kerajaan. Dipercaya telah ada sejak masa pemerintahan Ali Mughayat Syah yaitu Sultan Aceh yang pertama.
Bentuk unik dari senjata tradisional ini  dipercaya oleh masyarakat Aceh sebagai simbol dari kata ‘bismillah’, yang dapat diartikan ‘dengan menyebut nama Allah’. Bagian-bagian dari rencong sendiri sangat khas dan unik. Ukiran-ukiran yang ada pada gagang dan sarung rencong, kebanyak bermotif tumbuh-tumbuhan atau bunga. Saat itu ada pantangan orang Aceh yang muslim untuk membuat bentuk-bentuk makhluk bernyawa sebagai ukiran-ukiran khas Aceh.

Kue Khas Aceh (Dodol Aceh, Meuseukat, dan Wajik)
Dodol Aceh memang rasanya hampir mirip dengan dodol-dodol yang bearasal dari Jawa Barat. Namun ada keunikaan tersendiri dari dodol Aceh yang biasa dibuat pada seserahan pesta perkawinan. Dodol Aceh tersebut diukir dengan sangat cantik di atas nampan besar.

Ukiran tersebut umumnya berupa aneka jenis dedaunan, bunga mawar, bahkan sampai ukiran Pinto Aceh yang cukup indah. Dodol Aceh berbeda dengan meuseukat. Dodol Aceh menggunakan gula merah dalam pembuatannya sedangkan meuseukat menggunakan nanas, gula, tepung, dan juga mentega. Meuseukat diibaratkan sebagai ‘ulee’ atau kepala kue di Aceh. Alasannya, meuseukat umumnya hanya dibuat pada saat upacara-upacara besar seperti perkawinan.

Balee dan Rumoh Aceh
 Bangunan tradisional Aceh yang multifungsi disebut dengan balee atau balai. Balee bentuknya terbuka pada bagian dinding. Banyak jenis dan fungsi balee yang bisa digunakan untuk tempat berisitirahat sementara, menjamu tamu, atau sebagai tempat musyawarah. Balee meunasah digunakan masyarakat gampong untuk bermusyawarah atau mengaji. Ada juga balee yang dibuat secara pribadi yang disebut balee rumoh. Di balee, terdapat ukiran-ukiran yang mengelilingi balee, ukirannya pun sangat beragam.

Sama seperti halnya balee, rumoh Aceh didirikan di atas tiang kayu (tameh) dengan tinggi mencapai 1.5 -2 meter. Rumah Aceh terdapat empat bagian. Yaitu seuramoe keue sebagai tempat menerima tamu. Seuramo teungoh berfungsi untuk kamar tidur keluarga, ruang-ruang di bagian ini digunakan juga untuk memandikan mayat atau saat ada kenduri. Seuramo likot adalah ruangan untuk tempat makan, dapur atau berkumpulnya anggota keluarga untuk saling bercengkrama. Terakhir adalah ruang bawah yang digunakan untuk menyimpan hasil pertanian atau perkebunan.
dokumentasi @iloveaceh


Desain dari rumah adat Aceh ini sangat unik dan memiliki filosofis tersendiri. Baik pada bentuk rumah dan juga ukiran. Ukiran pada rumoh Aceh sangat cantik dan khas. Konon, dahulu jumlah dan banyaknya motif ukiran  rumah Aceh  menentukan  kemampuan ekonomi pemilik rumah adat tersebut.

Batee Nisan (Batu Nisan)
Aceh terkenal dengan kepandaiannya dalam mengukir batee nisan atau batee jeurat. Sejarah membuktikan dalam Tarikh Negeri Kedah atau Hikayat Murong Mahawangsa (Sekitar tahun 1400 SM) tercatat pengasah dan pemahat/pengukir dalam jumlah yang sangat besar. Pengolahan batu yang berasal dari Pulo Breueh dan Pulo Batee diolah di Meuraksa, sehingga batu nisan di Aceh disebut juga dengan batee Meraksa.
Nisan Aceh dalam sebuah pameran. Foto oleh bandaaceh.tourism.com

Ukiran dalam batu nisan Aceh zaman dahulu, dibedakan antara kuburan perempuan dan kuburan laki-laki-laki. Pada batu nisan inong (perempuan) motif ukirannya banyak bulatan yang disebut dengan anting anting. Menjadi pembeda dengan batu nisan agam (lelaki). Selain itu pada  batu nisan Aceh juga terukir motif bungong kalimah yang merupakan kaligrafi Arab yang tertuiskan kalimat syahadat, hadits, syair, atau nasihat tentang kematian.



Dari beberapa pemaparan mengenai  hasil karya ukir dan sejarah yang ada di Aceh. Budaya masyarakat Aceh di bidang seni ukir dapat dibilang sangat tinggi. Namun kini, sudah jarang kita temui orang-orang ahli ukir yang meneruskan kekayaan budaya Aceh ini. Nampaknya pembinaan keahlian mengukir  untuk generasi muda di era milenial ini masih dibutuhkan   agar kekayaan Aceh yang penuh nilai dapat dilestarikan. Bahkan bukan tidak mungkin bisa meningkatkan  kehidupan ekonomi para pengukir muda aceh dan kedepan karyanya bisa lebih dikenal dunia.






Dodaidi Menguatkan Karakter Masyarakat dan Budaya Aceh

7:44 AM 0 Comments


Saya mengagumi kemampuan bertutur dan berbahasa orang-orang di wilayah Sumatera terutama Aceh, di mana saat ini saya tinggal. Tahun 2012 saya memutuskan tinggal di daerah yang bukan hanya memiliki keindahan alam namun juga memiliki begitu banyak adat istiadat dan kebudayaan. Aceh, banyak mengajarkan saya banyak hal. Dari hal kecil hingga hal-hal besar yang bagi saya begitu unik dan saya tidak bisa jumpai di tempat lain.

Salah satu budaya yang menjadi perhatian saya adalah budaya menidurkan anak yang penuh dengan makna. Budaya menimang-nimang bayi dalam dekapan atau ayunan di Aceh, berbeda dengan beberapa daerah yang pernah saya kunjungi. Di Indonesia terdapat nyanyian Nina Bobo, dalam masyarakat internasional dikenal dengan lullaby, sedangkan di Aceh ada syair  khusus yang disenandungkan  sebagai cara menidurkan anak yang disebut dengan istilah dodaidi. Dodaidi dijadikan salah satu kebiasaan orang tua dalam melantunkan tembang khusus sebelum anaknya tidur. Di dalamnya terdapat puji-pujian kepada Allah SWT, salawat salam kepada Nabi Muhammad SAW, harapan tumbuh kembang anak dan juga penanaman karakter anak yang ketika dewasa kelak karakter baik tersebut dapat dijumpai pada anak.

Dodaidi berasal dari kata doda dan idi. Peudoda memiliki arti ‘bergoyang’ dan idi yang lazim juga disebut dodi memiliki arti kata ‘berayun’. Umumnya anak bayi ketika dilantunkan syair dodaidi berada dalam ayunan ija (ayunan kain), ditimang, atau ditidurkan saja di atas kasur.

Nyanyian adalah bahasa universal. Sampai sekarang, jika saya mendengarkan lantunan dodaidi yang dinyanyikan sepenuh hati, mata saya selalu berkaca-kaca. Bahasa Aceh bukan bahasa asli daerah tempat saya dilahirkan dan tumbuh dewasa, namun seni bernyanyi adalah seni yang dapat dirasakan oleh hati. Walaupun awalnya saya tidak terlalu faham arti dari syair  dodaidi namun syairnya seakan menyentuh relung hati saya yang paling dalam. 

Bertahun-tahun di Aceh,  kosa kata bahasa Aceh saya semakin bertambah,  akhirnya saya mulai mengerti dan memaknai apa yang ada  dalam syair dodaidi.

Allah hai do dodaidi
Allah hai do dodaidi
Boh gadong bi boh kaye uteun
Buah gadung buah-buahan dari hutan
Rayeu si Nyak hana peu mak bri
Besar si Anak entah apa ibu beri
Aib ngeun keuji ureng donya keun
Aib dan keji orang katakan
Allah hai do dodaida
 Allah hai do dodaida
seulayang  blang kah putoh talo
Layang-layang di sawah sudah putus tali
Beu rijang rayeuk muda sedang
Cepatlah besar  (remaja)
Ta jak bantu prang ta bela nangroe
Ikut pergi berperang untuk membela bangsa
Wahai aneuk bek ta duk le
Wahai anakku janganlah duduk (berdiam diri) lagi
Beudoh sare ta  bela bangsa
Bangkit bersama membela bangsa
Bek ta takut ke darah ile
Janganlah takut kepada darah mengalir
Adak pih  mate, poma ka rela
Walaupun mati, ibu telah rela
Jak lon tateh, meujak lon tateh
Mari ibu tu tuntun, kemarilah ibu tuntun
Bedoh hai aneuk ta  jak u Aceh
Bangunlah anakku kita ke Aceh
Meubeu bak on  ka meubeu timphan
Baunya daun telah berbau timphan
Meubeu badan bak sinyak Aceh
Seperti wangi badan si anak Aceh
Allah hai po ilahon hak
Allah yang sang pencipta yang punya kehendak
Gampong jarak han troe lon wo
Kampong jauh tiada sampai ku pulang
Adak na  bule, ulon tereubang
Andaikan punya sayap, ibu akan terbang
Mangat rijang troek u Nangroe
Agar cepat sampai ke Nangroe Aceh
Allah hai jak loen  timang treuk
Kemarilah nak Ibu timang-timang
Sayang  riyeuk  di sipreuk pante
Sayangnya ombak memecah pantai
Oh rayeuk  sinyak yang puteh meupreuk
Jika anak ini sudah besar nantinya
Toh sinaleuk gata boh hate
Di manakah engkau akan berada nanti wahai buah hatiku?
(Syair Dodaidi yang dinyanyikan oleh group musik Nyawong)




Dodaidi biasa disebut juga sebagai ‘syair peuayon aneuk’ atau ‘peurateb aneuk’ dalam kebudayaan Aceh. Peuayon aneuk merupakan lantunan syair untuk menidurkan anak. Di dalamnya terdapat kearifan lokal yang bisa didapatkan dari penggalian teks secara tersirat dan tersurat  dalam dodaidi.

Penanaman Ketauhidan dan Ajaran Agama
Aceh terkenal dengan keislaman yang cukup kental. Dodaidi dijadikan sarana penanamanan ketauhidan yang utama, yaitu kepada Allah SWT. Orang tua mengajarkan siapa itu Tuhan Yang Maha Berkehendak dengan lagu-lagu yang dilantunkan kepada anak sedari anak masih bayi. Oleh karena itu, jika kita perhatikan lebih mendalam, syair dodaidi banyak dimulai dengan nama-nama Allah ataupun juga salawat nabi. Para orang tua ingin anak-anaknya banyak mendengar nama-nama Allah sebagai kosa kata awal yang mereka kenal.  

Pendidikan
Nampaknya masyarakat Aceh sedari dulu percaya bahwa pendidikan harus mulai diajarkan semenjak usia sangat dini sampai kepada kematian. Seperti hadist yang berbunyi “tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”. Anak bayi yang sedang ditimang atau diayun tidak mengerti benar apa yang dimaksud dalam   syair dodaidi yang dilantunkan, akan tetapi  apabila dilantunkan berulang-ulang maka akan tertanam di dalam benak mereka syair-syair yang sarat makna tersebut. Ketika nanti sudah dewasa diharapkan mereka akan lebih mengerti apa yang tersirat dan tersurat dalam syair-syair tersebut sehingga diharapkan dapat menjalani kebaikan dan petuah-petuah yang ada di dalamnya.

Harapan  
Dalam contoh salah satu syair dodaidi tersebut seorang ibu menginginkan anaknya cepat rayeuk atau besar. Sebagai makhluk hidup,   anak manusia akan tumbuh dan berkembang.  Harapannya anak kan tumbuh dengan sehat, baik, pintar  dan tak kurang satu apapun. Terdengar seperti sebuah do’a yang dilantunkan berulang-ulang.

Pengenalan Sejarah
Dahulunya, Aceh juga dikenal dengan daerah para pejuang. Tak hanya para lelaki yang pergi berperang, pahlawan-pahlawan perempuan telah lahir di tanah Aceh. Kegigihan membela agama dan bangsa  dalam menumpas  musuh menjadi momok yang menakutkan untuk para musuh tersebut. Dalam syair dodaidi, Ibu mengingatkan anak tentang semangat berjuang para leluhur yang pernah lahir dan mendiami Aceh.

Dalam versi lain dodaidi, ada syair yang menyematkan Banta Seudang. Seperti syair dodaidi berikut ini:
                Bagah Rayeuk Banta Seudang
                (Cepat besar Banta Seudang)

Banta Seudang adalah nama anak seorang raja yang pernah hidup di Aceh. Banta Seudang dan ayahnya pernah dicampakkan oleh pamannya karena ayahnya dianggap sudah tidak mampu mengurus kerajaan lagi. Namun Banta Seudang tak pernah putus asa. Banta Seudang dikisahkan mencari obat mata untuk ayahnya dengan penuh perjuangan. Banta Seudang disimbolkan sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya. Nama Banta seudang disebutkan dalam dodaidi tersebut agar anak tidak lupa akan budi pekerti para leluhur terdahulunya.

Karakter Diri dan Kecintaan Kepada Agama dan Negara
Dalam syair tersebut anak diajarkan untuk memerangi musuh agama dan musuh negara. Anak diajarkan untuk kuat dan berprinsip teguh demi membela kebenaran apabila tanah dan hak-haknya sudah terjajah oleh orang-orang yang memiliki keinginan menguasai negeri yang kita cintai. Anak diharapkan menjadi sosok pribadi yang kuat dan juga tak takut melawan kebatilan.

Mengajarkan Keikhlasan untuk Kebenaran
Di dunia ini  tidak ada  ibu yang tega membiarkan anaknya mati, kecuali ibu yang tidak punya hati nurani. Perempuan Aceh sedari dulu diibaratkan dengan perempuan tegar dan kuat dengan prinsip hidup yang mereka pegang. Perempuan Aceh berani mengikhlaskan anak-anaknya membela bangsa dan agama untuk tidak takut mati dan siap merelakan ,jika anaknya mati dengan alasan agama dan bangsa terdapat dalam syair ini.

Tidak Hanya Kaum Mak, tetapi juga Ayah
Saat ini, berbagai penelitian menunjukan bahwa bounding (ikatan kuat) anak tidak hanya dimiliki  ibu dan anak. Ayah turut serta diharapkan memberi peran dalam pendidikan dan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, budaya mengayun dan juga melantunkan dodaidi bukan hanya milik ibu semata. Rafly, seorang seniman dari Aceh pernah melantunkan syair yang bisa dijadikan syair dodaidi pada anak.
Rafly si Bijeh Mata
Teungeut hai aneuk jantong ayahnda
Tidurlah Nak, jantung ayah
Yang dodo sayang lam ayon ija
Yang dodo sayang dalam ayunan kain
Sayang sayang jantong ayahnda
Sayang-sayang jantong ayahnda
Dodo sayang lam ayon ija
Dodo sayang dalam ayunan kain
Sinyak meutuah dengoe yah peugah
Anak baik budi dengar yang Ayah bilang
Ngak teunang hudep ngon seujahtra
Agar tenang hidup dan sejahtera
Kalimah thaibah ta pujoe Allah
Kalimat taibah memuja Allah
Seulamat hudep akhirat dunya
Selamat hidup akhirat dan dunia
Sayang sayang jantong ayahnda
Sayang-sayang jantung ayah
Kasih sayang si bijeh mata
Kasih sayang si bijeh mata (idiom untuk anak tersayang/buah hati)




Akankah Dodaidi Tergerus Zaman?
Berkembangnya zaman, membentuk orang-orang yang berada di era milenial ini lebih melek dunia informasi, tekhnologi bahkan juga seni. Sayangnya  seni-seni yang telah turun temurun di Aceh ini semakin lama semakin terlupakan. Dodaidi memiliki pemaknaan yang sayang jika pada akhirnya tergerus zaman dan tidak diwariskan kaum-kaum milineal kepada para penerusnya. Pelajaran-pelajaran dalam dodaidi yang dilantunkan bukan hanya milik orang-oranf zaman kerajaan, bukan hanya punya Aceh di masa lalu, tapi juga punya aceh kini dan juga nanti.

 
Untuk melestarikan budaya Aceh lomba dodaidi digelar. Foto oleh acehprov.go.id

Monday, September 30, 2019

Dua Tahun Aceh Hebat dan Program-program yang Bersinergi untuk Masyarakat

9:43 AM 0 Comments



Hari itu saya menemani sepasang  suami istri  pengusaha asal Bandung yang sudah cukup terkenal di daerah asalnya. Hari yang cerah, kami  mengelilingi beberapa daerah di Aceh sambil berbincang mengenai Aceh. Kami membicarakan banyak hal mulai dari adat, makanan, dan lain sebagainya. Mereka mencari tahu berbagai hal tentang  Aceh karena memiliki  niat untuk mengembangkan usahanya di Aceh.

Berkali-kali mereka mengucap kekaguman mengenai keindahan, kebersihan, keramahtamahan warga, juga  makanan yang memanjakan lidah mereka. Ada beberapa pertanyaan dan kekhawatiran yang mereka tanyakan, apalagi mereka berasal dari keturunan Tionghoa. Saya hanya bisa tersenyum sambil menjelaskan apa yang saya tahu tentang Aceh, walaupun saya juga belum 9 tahun mendiami tempat ini. Setidaknya, pernyataan jujur dari pendatang menjadi masukan yang ingin didengar oleh mereka. Saya ingin mereka lebih banyak tahu tentang kelebihan dan  keunikan  Aceh, karena bagi saya “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”.

Saat mengingat itu, saya pun jadi mengingat kembali ucapan kawan-kawan  dan kerabat yang pernah mengunjungi  Aceh sebelum dan setelah tsunami. Melihat dan mengagumi  bagaimana Aceh berbenah dan mempercantik diri dari segala cobaan yang pernah melanda Aceh, baik tsunami ataupun  konflik yang pernah terjadi.

Selama hampir 9 tahun saya mendiami Aceh, saya pun merasakan cinta yang tumbuh di 'Tanah Rencong'. Perubahan-perubahan dan program-program pemerintahan tak luput saya perhatikan. Bersyukur karena program-program pemerintahan bukan hanya dinikmati dan dirasakan orang Aceh sendiri, namun juga para perantau. Seakan tidak peduli  keturunan dan kelahiran, orang Aceh atau bukan, yang saya rasakan  program pemerintahan cukup adil dan merata.

Dua tahun belakangan adalah dua tahun yang cukup berarti, pemerintahan dipimpin oleh  Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah. Semenjak terpilihnya Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah di tahun 2018, semenjak itu pula dicanangkannya program-program prioritas  Aceh Hebat. Program tersebut terdiri dari 15 program unggulan yang idealnya terlaksana sampai tahun 2022 untuk membangun Aceh  menjadi lebih baik lagi.

15 Program dan Pengimplementasian

1    1.       Aceh Seujahtra
JKA Plus adalah Jaminan Kesehatan Aceh  Plus yang pernah sebelumnya di tahun 2007-2011 bernama JKA (Jaminan Kesehatan Aceh) dan di  tahun 2012-2017 bernama JKRA (Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh). JKA Plus ini masih bekerjasama dengan BPJS, nilai preminya pun tetap sama yaitu 23 juta/tahun. Namun, keunikan dari JKA Plus ini, orang yang hendak  berobat tidak perlu dipusingkan dengan urusan fotocopy atau urusan administrasi lainnya.
Saya  melihat inilah keunikan dan kelebihan dari sistem pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang dimiliki Aceh. Di Aceh, pelayanan kesehatan masyarakat lebih mengedapankan tertanganinya pasien secara cepat. Hal ini pula yang sering saya banggakan kepada teman dan kerabat di provinsi lain mengenai pelayanan tersebut. Terlebih Gubernur Irwandi telah memerintahkan instansi terkait, RSU (Rumah Sakit Umum), RSIA (Rumah Sakit Ibu dan Anak) dan juga RSJ (Rumah Sakit Jiwa) untuk menyediakan satu loket khusus untuk mempermudah kelengkapan dokumen pasien yang ingin berobat.
Beberapa pembangunan Rumah Sakit Umum dan  Rumah Rehabilitasi juga menjadi bagian dari program ini dan dilakukan secara bertahap.

2    2.       Aceh SIAT (Sistem Informasi Aceh Terpadu)
Sistem Informasi Aceh Terpadu  (SIAT)  dijadikan sebagai usaha mencapai Aceh Smart Province. Seperti yang pernah dikemukakakan oleh Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, pada tanggal 7 Mei 2019 di Banda Aceh.
Birokrasi yang sulit dan terlalu administratif diharapkan dapat teratasi dengan Aceh SIAT. Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, pernah menggandeng Institut Tekhnologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dalam rangka usaha penerapan e-governance di Aceh.
Dengan anggaran 47 miliyar lebih diharapkan program ini terlaksana dengan baik. Selain e-governace, anggaran tersebut juga dialokasikan untuk pengembangan teknologi & informasi dan juga penyedian data informasi.

3    3.       Aceh Carong (Aceh Pintar)
Program ini mencakup program pemberian beasiswa kepada anak yatim, anak kurang mampu dan juga umum, pembangunan  sarana pendidikan, pengembangan perpustakaan, pemberian keterampilan dan pelatihan di dayah-dayah maupun generasi muda.
Sampai bulan Mei lalu, pemberian beasiswa sudah dicairkan sebanyak 97.000 ribu lebih untuk anak yatim, piatu, dan yatim piatu di berbagai daerah di Aceh.
Pelatihan dan keterampilan yang diberikan kepada generasi muda dan di dayah-dayah diharapkan menjadi bekal keterampilan yang akan ditekuni mereka agar menjadikan mereka lebih mandiri dan membangun Aceh yang lebih baik kedepannya.
Pembekalan pelatihan literasi untuk para guru, petugas perpustakaan sekolah, dan para penggiat literasi dari mulai kota-kota besar di Aceh sampai desa terpencil turut serta mendukung program Aceh Carong pada dua tahun Aceh Hebat ini.

4    4.       Aceh Energi
Masalah energi terutama pasokan listrik menjadi salah satu perhatian Aceh Hebat dalam programnya yang diwujudkan dalam program Aceh Energi. Komitmen untuk meningkatkan kapasitas energi baru dan terbarukan terus digaungkan pemerintahan Aceh Hebat ini.

5    5.       Aceh Meugo dan Meulaot
Pada tahun 2017 bidang pertanian menyumbang persentase paling banyak dalam roda perekonomian Aceh, sebanyak 29,63 %. Peran serta penyuluh pertanian sangat membantu peningkatan keahlian para petani. Diharapkan sektor pertanian ini juga meningkatkan kesejahteraan para petani bukan berfokus hanya sampai pada tahap memanen hasil pertanian saja tapi ada tekhnologi tepat guna yang dilakukan  selanjutnya agar para petani lebih sejahtera sehingga tujuan dari Aceh Kaya  juga dapat tercapai.
Sama halnya dengan penyuluh pertanian, para guru yang mengajar di SMK-PP Negeri Saree juga ikut serta memberikan pendidikan pertanian yang tepat untuk para anak didiknya. Sekolah ini dibawahi  Departemen Pertanian dan Perkebunan juga Dinas Pendidikan. Oleh karenanya  Aceh Meugo dan Aceh Carong bersinergi dalam program-program yang diberikan kepada anak didik SMK-PP Negeri Saree.
Sukma, sahabat saya yang mengajar di SMK-PP Saree mengutarakan bahwa Ia kini sedang mengajar salah satu bidang kompetensi keahlian tanaman pangan, bebrapa hari yang lalu siswanya baru saja memanen bawang.  Diharapkan setelah para siswa bersekolah di SMK-PP Negeri Saree mereka memiliki keahlian dan terus mengembangkan bidang pertanian agar sektor pertanian di Aceh semakin bersinar.
Selain Aceh Meugoe, program Aceh Hebat juga mencakup Aceh Melaot yang salah satunya berupa perbaikan fasilitas dan teknologi perikanan serta pemasaran yang lebih luas.
Hasil Panen Bawang SMK-PP Saree dok. Sukma

6    6.       Aceh Troe
Aceh merupakan peringkat ke-3 stunting balita di tingkat nasional. Salah satu program Aceh Hebat berupa Aceh Troe yang bernama Geunting (Gerakan Upaya Pencegahan dan Penangan Stunting) dideklarasikan pada 3 Maret 2019 di lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

7    7.       Aceh Kreatif
Aceh Kreatif ini banyak berpusat pada pertumbuhan industri yang berdasarkan pada potensi sumberdaya daerah.

8    8.       Aceh Kaya
Pelatihan-pelatihan yang diberikan pada pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) oleh beberapa dinas terkait seperti  Dinas Koperasi dan UKM Aceh, Departemen Pariwisata Aceh, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dan sebagainya.
Pelatihan-pelatihan tersebut merupakan program-program yang bersinergi antara beberapa program Aceh Hebat yang berupa  Aceh Kreatif  dan juga Aceh Kaya dimana pelatihan dan pendidikan yang diberikan tersebut bukan hanya menambah wawasan serta keilmuan para pelaku UMKM namun juga ikut merangsang para pelaku UMKM agar semakin inovatif dan kreatif sehingga dapat terus bertumbuhnya keahlian pelaku wirausaha di Aceh.
Saya dan beberapa kawan saya bukan hanya mendapatkan manfaat dari kegiatan ini saja. Teman saya, Edi seorang pelaku UMKM yang memproduksi bumbu khas Aceh Meurasa mengatakan, “Saat ini akses pelaku UMKM untuk berdiskusi dengan Pak Nova selaku Plt Gubernur dapat dibilang semakin mudah”. 
Hal ini tentu semakin membuat program-program Aceh Hebat untuk memberdayakan pelaku UMKM dan IKM (Industri Kecil dan Menengah) semakin terimplementasi dengan baik.
Plt Gubernur Aceh dan Pelaku IKM setelah pembahasan KIA ladong dok. Edi



9    9.       Aceh Peumulia
Peningkatan pelayanan publik dan peningkatan transportasi umum menjadi bagian dari program Aceh Peumulia. Saya yang sering sekali menggunakan transportasi umum pemerintahan seperti Trans Kutaraja, sangat terbantu dengan semakin bertambahnya jumlah armada dan rute Trans Kutaraja beberapa tahun terakhir.
Sayangnya, beberapa fasilitas umum pada halte-halte Trans Kutaraja telah mengalami pencurian dan juga pengrusakan. Oleh karena itu kesadaran dan peran serta masyarakat juga diperlukan dalam   menjaga dan merawat fasilitas yang sudah ada.
Sumber: Instagram @trans.koetaradja

1    10.   Aceh Dame
Salah satu kesepakatan dalam MOU Helsinki adalah dibentuknya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Kapasitas komite KKR ini juga menjadi bagian dari program Aceh Dame. Saya yang merupakan salah satu tenaga freelance data entry di KKR menjadi saksi bahwa program dan kinerja KKR ini dikerjakan dengan usaha yang maksimal demi terciptanya keadilan bagi korban-korban konflik Aceh.
Rapat dengar kesaksian para korban pelanggaran HAM semasa Konflik Aceh di masa lalu,  diselenggarakan pada 16 Juli 2019.

1    11.   Aceh Meuadab
Suatu hari, ibu saya pernah ke Aceh dan mengangumi  budaya  gotong royong dalam suatu upacara pernikahan. Sanak saudara ringan tangan membantu saudara lain yang sedang melaksanakan kenduri.
Budaya kekeluargaan ini sudah selayaknya tidak hilang tergerus kemajuan nyaman. Penguatan budaya masyarakat adat yang berdampak pada peningkatan kepekaan sosial adalah salah satu bagian dari sekian banyak program Aceh Meuadab.
Peningkatan basis nilai-nilai moral dalam dunia pendidikan juga dilakukan di berbagai sekolah mulai dari tingkat SD maupun MI. harapan kedepannya, masyarakat Aceh di manapun berada tetap mencintai adat istiadat dari para leluhurnya  yang penuh dengan makna.

1    12.   Aceh Teuga
Berbenah untuk PON atau Pekan Olahraga Nasional  2024, Aceh menyiapkan dan membenahi prasarana dan sarana fasilitas pendukung acara tersebut. Salah satu di antaranya adalah renovasi kolam renang Tirta Raya. Prasarana dan sarana yang nyaman bagi para atlet nasional dan juga tempat berlatih atlet Aceh tentu diperlukan untuk terselenggaranya PON 2024 nanti.   

1    13.   Aceh Green
Aceh merupakan wilayah yang sangat sering dilanda bencana seperti gempa, banjir, tsunami bahkan sampai likuefaksi. Dalam program Aceh Green ini pemerintah menerapkan strategi mitigasi dan manajemen resiko bencana melalui penguatan kapasitas tim tanggap darurat dan penyadartahuan masyarakat.
Saya pernah menghadiri salah satu penyadartahuan masyarakat mengenai bahaya likuefaksi di berbagai forum. Dalam forum-forum tersebut, hadir para narasumber yang ahli di bidangnya.

1    14.   Aceh Seuninya
Dalam rangka mendukung program Aceh Seuninya, pemerintah akan merehab 106 rumah tidak layak huni di Aceh Tamiang seperti yang diutarakan Kabid Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial Aceh kepada Bupati Aceh Tamiang, H. Musil SH MKn pada 13 Juli 2019 lalu. Hal ini menunjukan bahwa, pemerataan pembangunan bukan hanya diupayakan di beberapa kota besar saja namun juga di daerah Aceh lainnya.

1    15.   Aceh Seumogo
Di bidang ini Aceh berupaya untuk membuat dan memperbaiki infrastruktur yang telah atau belum tersedia untuk digunakan oleh masyarakat Aceh. Hal ini akan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat Aceh. Penyediaan dan perbaikan prasarana dan sarana tersebut, di antaranya mencakup pembangunan gedung pemerintahan, bandara, pembangunan irigasi, jalan dan jembatan. Tidak main-main, di bidang ini Aceh Seumogo  memiliki APBA senilai Rp. 3,471 T. Sebagai warga masyarakat  tentu kita berharapan program Aceh Seumogo ini dikelola dengan baik cerdas.  

Dari ke-15 program yang diunggulkan Aceh Hebat tentu tidak serta-merta berjalan dengan sempurna, perlu kerjasama dari berbagai pihak untuk memajukan Aceh tercinta. Semoga Aceh Hebat di dua tahun awal ini menjadikan Aceh lebih mandiri dan lebih baik lagi kedepannya.


Thursday, September 26, 2019

Ngobrol Tempo Asyik, Sosialisasi dan Penerapan Qanun Lembaga Keuangan Syariah di Aceh

7:47 PM 0 Comments




Zaman sekarang baik itu di kota-kota besar maupun pedesaan, sudah menjadi sesuatu yang biasa ketika kita menggunakan jasa perbankan dalam banyak aktifitas yang berhubungan dengan keuangan. Ada banyak lembaga keuangan yang kita seleksi dan akhirnya harus kita putuskan sebagai suatu  pilihan. Mana lembaga yang memang benar-benar membuat kita nyaman dalam hal bertransaksi maupun pinjaman dan penyimpanan uang.

Di Aceh, Lembaga Keuangan  Syariah (LKS) telah diatur dalam Qanun No 11 tahun 2018. Tiga tahun dari tahun 2018 atau tepatnya di tahun 2021, seluruh lembaga jasa keuangan harus menganut prinsip syariah. Perbankan konvensioanal yang memiliki kantor di Aceh harus dikonversi menjadi bank syariah.

Hal ini akan menjadi harapan baru bagi rakyat Aceh sendiri, untuk menjadi rule model secara nasional dalam pelaksanaan dan pengimplemntasian Qanun LKS  yang ada di Aceh dalam kaitannya dengan pemanfaatan  bank syariah yang tersebar luas.

Oleh karena itu, saya tertarik mengikuti acara Ngobrol Tempo yang mengangkat tema Kesiapan Perbankan Terhadap Qanun Bank Syariah di Aceh, yang diadakan pada tanggal 23 September 2018 di Gedung Bank Indonesia Aceh.

Acara tersebut dihadari oleh berbagai narasumber yaitu Zainal Arifin Lubis (Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh), Aulia Fadhli (Ketua OJK Provinsi Aceh), dan Fahmi Subandi (Direktur Operasional BRI Syariah). Direktor Tempo, Tomi Aryanto menjadi moderator dalam acara tersebut. Selain itu acara ini mendapatkan sambutan yang baik dari perwakilan Plt. Gubernur Aceh saat menjelaskan secara  detail mengenai sejarah Qanun Lembaga Keuangan Syariah ini tercipta.

Banyak nilai historis yang ada saat DPRA dan Gubernur menyusun Qanun ini. Landasan dari Qanun mencakup tiga hal, di antaranya landasan filosofis, landasan sosial, dan juga landasan yuridis.

Landasan filosofis memiliki nilai historis yang kuat pada tahun 1959 Aceh disebut sebagai Daerah Keistimewaan. Lalu setelah itu disahkannya UU no 44 tahun 1999 tentang Aceh sebagai daerah syariat islam yang ada di indonesia. Hal ini juga membuat aceh memiliki nilai keistimewaan di dalam bidang penidikan, adat, agama dan juga peran ulama.

Landasan sosial dalam hal ini adalah  karena Aceh merupakan daerah syariat islam dan segala aktivitas diatur dalam konteks keislaman, sebgaian besar wagra Aceh menerima dengan baik walaupun dalam pengimplementasiannya penuh dengan tantangan. Sedangkan landasan yuridisnya yaitu UU no 44 tahun 1999 (Aceh ditetapkan sebagai daerah syariat islam) dan UU No. 18  Tahun 2001 (mengenai otonomi Aceh).

Sedangkan menurut Arifin Lubis, ada potensi besar untuk Aceh bisa bangkit dengan menerapkan Qanun Lembaga Keuangan Syariah. Di dalam prinsip ekonomi syariah ada prinsip keadilan namun tergantung bagaimana pengimplementasiannya. Potensi-potensi sumber daya alam dan juga sumber daya manusia di Aceh perlu ditingkatkan. Menurut data yang ada, penerimaan uang di Aceh lebih sedikit dibandingkan pengeluaran ke kota lain. Oleh karena itu banyak potensi Aceh yang masih bisa terus di gali lagi agar aceh lebih mandiri lagi. Penerapan Qanun LKS dapat meminimalisi riba dan praktek keuangan yang tidak adil bahkan kepada orang-orang yang bukan muslim.

Aulia Fadhli selaku ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh menegaskan Aceh merupakan daerah terbesar no 3 di Indonesia untuk perbankan syariah . Peran serta ulama atau teuku juga di Aceh sangat membantu terlaksananya Qanun LKS ini. Di daerah lain  bank syariah terkendala akses, namun jika Qanun LKS ini telaksana dengan baik maka di Aceh tidaka sulit menemukan Bank Syariah bahkan untuk daerah-daerah kecil. Dalam kaitannya perihal peminjaman, Aulia Fadhli juga menegaskan, prinsip syariah itu tidak bisa berjalan jika orang yang meminjam dan peminjam tidak membagi hasil.

Potensi alam, SDM muda, pendidikan, budaya dan kepopuleran merupakan potensi-potensi yang ada di Aceh untuk terus dikembangkan menurut Fahmi Subandi selaku direktur operasional BRI Syariah. Qanun LKS ini tidak dapat dilakukan oleh perbankan sendiri jika tidak ada dukungan dari OJK, Bank Indonesia dan Pemda dalam penerapan Qanun Lembaga Keuangan Syariah.

Sebagai seorang pelaku wirausaha, saya menjadi mendapatkan pencerahan baru mengenai potensi yang ada di sekitar saya, di Aceh ini. Membawa semangat baru untuk menemukan dan mengolah potensi yang sudah ada. Setelah potensi itu terus dikembangkan,  selanjutnya mengenai masalah keuangan untuk tidak ragu dan juga dapat  memperoleh kenyamanan dan keaman dari lembaga keuangan syariah yang diatur dalam Qanun Lembaga Keuangan Sayriah. Acara yang turut difasilitasi oleh Tempo ini sangat membantu para pelaku usaha dan masyarakat secara luas mengenai sosialisasi penerapan Qanun Lembaga Keuangan Syariah. #NgobrolTempo asyik!

 
Para Bloger Peserta Ngobrol Tempo

Saturday, July 27, 2019

Pengertian dan Gejala Mata Kering, Instro Dry Eyes Solusinya. Bye Mata Kering!

7:43 AM 1 Comments




Penggunaan layanan internet dan produk-produk digital menjadi keseharian di era milenial ini. Menurut survei dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia) pada tahun 2018   pengguna layanan internet di Indonesia mencapai 64,8%.hal ini berarti ada kenaikan sebesar 10,22% dari tahun 2017. 

Penggunan perangkat digital pada survei tersebut juga menggambarkan tingkat kecenderungan penggunaan menggunakan smartphone dan laptop di urutan terbanyak pertama dan ke dua. Hal ini juga persis  seperti yang saya lakukan setiap harinya. Mempunyai toko offline di zaman sekarang ini  agar lebih maju saya juga mengimbangi dengan pemasaran secara online baik itu di melalui media sosial  ataupun di beberapa market place yang ada di Indonesia. Bukan hanya itu , aktivitas lain saya sebagai seorang blogger dan freelance writer menuntut saya untuk menggunakan smartphone dan juga laptop lebih lama. 

Penggunaan dua peralatan tadi memang memberikan manfaat besar untuk pekerjaan saya, namun ada juga konsekuensi yang harus saya terima terutama pada kesehatan mata. Umumnya para pengguna  yang berinteraksi dengan smartphone   dan juga laptop lebih banyak dan intens memiliki kecenderungan  menderita mata kering. Untuk mengetahui tentang pengertian mata kering, gejala mata kering dan solusinya, yuk kita pelajari lebih dalam! 

Pengertian Mata Kering

Mata kering atau yang disebut dengan keratokonjunctivitis sicca adalah kondisi di mana mata tidak mendapatkan pelumas yaitu berupa airmata. Mata sangat tidak nyaman dikarenakan mata tidak bisa membersihkan debu atau benda asing yang menempel pada mata. 


Gejala Mata Kering 


Air mata mengalir ke kornea ketika berkedip yang berguna untuk melindungi dan menutrisi kornea. Permukaan luar mata yang berfungsi untuk meneruskan cahaya ke dalam mata bisa saja terganggu dikarenakan kelenjar di sekitar mata tidak cukup memproduksi air mata sehingga timbul gejala-gejala mata kering. Gejala-gejala mata kering di antaranya :
       1. Mata lelah  
Kondisi di mana mata digunakan secara intens. Salah satunya seperti yang sering saya alami ketika memperhatikan smarphone dan laptop dalam waktu yang lama.  
2. Mata Sepet 
Adalah kondisi di mana mata seakan kesat, tidak enak dan tidak nyaman.  
3. Mata pegal  
Sama seperti mata lelah, mata pegal juga bisa dikarenakan mata digunakan secara intens. Mata terasa berat ketika digunakan.  
4. Mata Perih  
Adalah kondisi dimana mata terasa perih atau sakit, yang membuat kita menjadi sering mengedip-ngedipkan mata.

Cahaya Berlebih dan Debu Membuat Mata Kering


Tidak hanya penggunaan smartphone dan laptop membuat mata cepat lelah dan kering. Cahaya berlebih dan debu membuat mata tidak nyaman. 
Tinggal di daerah dekat pantai, cahaya berlebih dan debu terus mengintai.  Foto dok pribadi. 

Saya tinggal di dekat pantai di mana angin dan debu sangat mudah membuat mata kering.  Aceh terkenal juga dengan sinar matahari yang melimpah, saya juga pernah mengelami eye floaters. Eye floaters di dalam mata membuat mata sering mengalami bayang-bayang berwarna putih yang berentuk bulat atau seperti benang yang melayang-layang. Cahaya berlebih dan debu yang mudah menempel pada mata membuat mata kering dan juga iritasi. Oleh karena itu saya membutuhkan cara agar mata saya tidak kekeringan dan juga menjadi lebih segar. 
Floaters pada mata. Foto kumparan.com


Aktivitas Inten Pada Mata di Malam Hari


Bukan hanya melihat gawai dan membaca buku secara intens di tempat gelap yang bisa menimbulkan gejala mata kering. Hobi membuat kerajinan tangan pBuun bisa menyeabkan mata cepat lelah dan menjadi kering.   
Saya akhir-akhir ini sedang mulai mendalami kerajinan kruistik atau yang disebut dengan tusuk silang. Untuk mendalami hobi baru saya ini saya kadangmelakukannya di malam hari. Karena membuat kruistik menjadikan saya intens melihat jarum dan benang-benang yang harus disilangkan pada kain berongga berukuran kecil, kadang mata saya mengalami kelelahan.

Mengatasi Mata Kering 


Mata kering dan mata lelah yang saya alami bisa diatasi dengan berbagai cara salah satunya dengan obat tetes mata. Obat tetes mata Insto sudah saya kenal semenjak saya kecil. Obat tetes mata insto yang khusus untuk mata kering adalah Insto Dry Eyes. Ukurannya yang mini dengan net content hanya 7,5 ml memudahkan kita mudah membawa Insto Dry Eyes kemana saja. Harga Insto Dry Eyes ini sangat terjangkau. Apotek di Banda Aceh menjual dengan harga di bawah Rp. 15.000.

Kenapa Harus Insto Dry Eyes? 

Ada dua kandungan unggulan dalam Insto Dry Eyes di antaranya Hydroxyprophylmethyl Selulose dan Benzalkonium Chloride. Hydroxyprophylmethyl Selulose pada Insto Dry Eyes berfungsi sebagai pelumas mata yang kandungannya hampir menyerupai air mata. Sedangkan Benzalkonium Chloride  berguna untuk mengatasi gangguan ringan pada mata seperti mata kering dan juga menghalau pertumbuhan  bakteri, virus, dan jamur yang dapat membahayakan mata. 

Setelah memakai insto dry eyes saya mendapakan solusi mata kering dan lelah yang saya alami akibat dari beberapa aktivitas intens pada mata yang saya alami.  Produk Insto Dry Eyes ini juga bisa  kita lihat lebih jauh pada website Insto Dry Eyes.