instagram

@soratemplates

Sunday, August 12, 2018

Berkenalan dengan ISBI Aceh, antara Kudet dan Ide Baru di Kepala

Ternyata ada Instititut Seni di Aceh, dan saya akui saya kudet, kurang update. hihi.

12 Agustus 2018, tepat di hari minggu saya mendatangi pelatihan, (kalau saya cenderung berfikir  itu adalah acara seminar) jurnalistik dengan narasumber Bapak Yarmen Dinamika  di gedung Dinas Perpustakaan dan  Kearsipan  Provinsi Aceh, sebagai salah satu rangkaian acara menyambut Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang merupakan kegiatan kerjasama antara FAME (Forum Aceh Menulis) dan juga Dinas Kepustakaan dan Kearsipan Aceh. 

Acara tersebut bagi saya pribadi adalah acara yang membuat semangat kembali untuk menulis dan melahirkan karya-karya di bidang literasi yang di hidup saya pernah mati suri.

Setelah seleai acara, saya menjumpai beberapa mahasiswa dan dosen ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Aceh, yang sedang melaksanakan demo pewarnaan cat arklikir pada media kertas yang menghasilkan karya  seperti lukisan abstrak namun warna-warna  yang dihasilkan cukup indah.



Lalu saya mencoba berkenalan dengan  cara membaca Brosur yang diberikan Bapak Dedi Selaku Dosen di ISBI Aceh. Beliau menjelaskan bahwa ISBI Aceh ini merupakan institut seni dengan status Perguruan Tinggi Negeri  yang mengkhususkan diri di seni dan  satu-satunya di Aceh. Kagetlah saya, dan saya berfikirir saya sepertinya kudet.

Saya juga mencoba untuk membrowsing tentang ISBI Aceh ini, ISBI Aceh ini diresmikan 6 Oktober 2014  di Surabaya oleh Presiden Republik Indonesia DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono. ISBI Aceh berlokasi di Jantho, Aceh Besar yang merupakan satu-satunya Institut seni negeri yang ada di Sumatera. Harusnya ini menjadi modal Aceh untuk lebih mendorong anak-anak muda yang ingin mendalami seni lebih dalam. 

Kabarnya, ISBI Aceh ini sedang membuat Jalur Mandiri Khusus 2018 tanpa batasan usia. Untuk lebih jelas mengenai penjurusan dan jadwal pendaftaran beserta tata cara pendaftaran bisa dilihat dengan mengklik website ini.

Kembali lagi mengenai senangnya saya belajar mencampur adukkan warna-warna dengan tekhnik pencampuran yang sederhana, memunculkan dua ide baru di kepala. 

1. tekhnik pencampuran warna seperti gambar di atas bisa dilakukan untuk anak-anak sampai dewasa, dan saya berniat untuk mengajarkannya kepada kedua anak saya,  Ghaissan dan Qaysarah di rumah, mungkin yang akan saya lakukan melalui beberapa langkah pengerjaan dari mulai pewarnaan sederhana sampai tingkat aplikasi pada kerajinan craft sederhana yang bisa dilakukan anak dan orang tua. InsyaAlloh, tungguin ya hihi.
2. saya berencana untuk melakukan kerjasama antara CINEUBA (Craft Ija Beneung Banda Aceh) dan ISBI Aceh untuk mengadakan pelatihan pewarnaan sederhana di kain untuk dijadikan dasar pembuatan craft lain semisal, tas, dompet dan lainnya.  CINEUBA merupakan satu komunitas yang saya ikuti yang merupakan perkumpulan para wanita Aceh yang hobi membuat berbagai craft dari Ija (kain) dan Beneung (benang). ISBI Aceh terlihat antusias menyambutnya, pun saya demikian. semoga seni pewarnaan ini menjadi cikal bakal untuk  mengenalkan pendidikan dan pelatihan seni untuk  pemberdayaan perempuan di Aceh ini. 

InsyaAlloh semoga Alloh mudahkan.

Banda Aceh 

13 Agustus 2018

No comments:

Post a Comment