instagram

@soratemplates

Friday, September 22, 2017

Di balik NEP dan Pelit Ilmu


Niyaz Empowering People. Pelatihan merajut dan menjahit untuk para pemula ini awalnya dibuat untuk mengaryakan para pemula yang ingin terjun di dua bidang rajut dan jahit. Beberapa project pembuatan barang sederhana menjadi kegiatan program ini.

Ada yang menghawatirkan saya ketika apa yang saya jual semisal pouch, bantal mini, jilbab anak, jilbab dewasa, sarung instan anak, dll itu saya bongkar ‘resep’ detail pembuatannya. Apakah tidak takut saingan?

Sejujurnya saya terinspirasi dengan dua pasangan muda yang menjadi sahabat saya di dunia maya. Dua orang di Malang Jawa Timur.  Dua orang ini yang saya tau memulai usaha dengan sangat sederhana. Dengan modal yang kecil untuk ukuran bisnisnya yang terus meningkat sekarang. Saya belajar dr mereka bahwa kalau mau jadi sukses jangan pelit ilmu.

Saya juga mempunyai beberapa kawan yang memang terjun di dunia fashion muslim yang namanya booming di mana mana. Tapi ada beberapa dari mereka jangan coba-coba untuk menanyakan bisnisnya. Tak terjawab pastinya haha. Tapi dua org suami isteri dari malang ini luar biasa dermawan soal ilmu. Rajin membuat pelatihan marketing online baik itu secara offline (bertemu langsung), dan online (lewat fb dan wa pada umumnya). Momong anak mereka lakukan bergantian, disambi mengurusi bisnisnya dan ganti gantian menjawab pertanyaan di group wa yang mereka kelola. Apakah ilmu mereka berkurang? Apakah rezeki mereka menjadi sempit. Tentu tidak. Justru saya lihat ada keberkahan dalam usaha mereka. Keberkahan usaha bukan hanya dilihat dari seberapa besar materi yang ia dapatkan di bisnis itu. Tapi seberapa signifikan bisnisnya semakin mendekatkan diri mereka kepadaNya. Terlihat dari tutur dan perilaku keseharian mereka. Ilmu lain yang masuk ke mereka pun saya lihat terus bertambah, terlihat dari bagaimana mereka memberi info info baru tentang marketing online. Tentang menjalankan bisnis.

Kembali lagi ke NEP, suatu saat saya merenung. Ada ujian hidup yang saya rasa itu terberat sejauh ini di hidup saya. saya seakan menduduki sebuah kursi yang dibawahnya ada api. Saya harus bangkit dan berdiri. Tidak berpegangan tapi harus bertumpu dengan kaki sendiri. Lalu apa yang saya fikirkan tentang ini semua? Saya harus punya keahlian apa? Saya berjualan sejak smp. Tapi selain berjualan apa yang saya bisa harapkan lagi agar rezeki bisa datang dari banyak sisi. Ada usaha apa yang membersamai doa’-do’a saya? Saat itu toko saya pun diambang titik nadir yang merosot jauh ke belakang. Alasannya tentu karena banyak hal. Tapi bukankah masih ada seribu jalan menuju roma dan juga ka’bah? Hihi. Ini semua pasti ada jalan, batin saya.

Saya iseng membeli mesin jahit mini seukuran steples (hekter)-bagaimana dah nulisnya haha. Awalnya iseng. Saya mengutuki diri, kenapa motong dan mendekin baju ghaissan yang sederhana itu saya harus mengeluarkan uang Rp.15.000 kepada penjahit yang ngehits di kampung saya. bukan karena 15rb, tapi krn saya merasa 15rb itu saat ini adalah ukuran yang mahal buat saya. kenapa saya tidak bisa menjahit? Bukan, bukan karena saya tak bisa. Karena dulu saya tidak mau untuk mencoba.

Perlahan lahan saya mulai memberanikan diri untuk membeli mesin jahit yang lebih profesional. Mengikuti kustum (les jahit) yang walaupun dengan banyak alasan saya berhenti sebelum saya sebulan. Tapi bukankah masih ada seribu jalan menuju roma dan juga ka’bah? Saya belajar dari buku dan dunia maya. Bergabung dengan beberapa komunitas di rajut dan jahit. Walaupun hanya sebatas wa group dan fb group tapi dari semua, intinya adalah belajar.

Pada saat pembukaan NEP Batch 1, saya bilang di awal kegiatan. Bahwa perempuan harus punya keahlian, bahwa perempuan jangan pasrah kepada hiup. Sebab kita tidak pernah bisa menebak jalan hidup. Sebab kita tak pernah tau jalan takdir kita akan kemana. Sebab kita tak pernah tahu, apa yang akan terjadi dengan orang tua atau suami kita kelak. Setidaknya, kuatkan kaki untuk berdiri sendiri.

Tulisan ini dibuat untuk wanita yang mempunyai keahlian parenting, publik speaking, menjahit, merajut, memasak, home dekor, menulis dll. Yang apapun macamnya keahlian itu, suatu saat bisa digunakan saat dunia tak lagi memihak.

-karena menulis adalah bentuk sedekah ilmu-
Banda Aceh 24 Agustus 2017

No comments:

Post a Comment